أهلا و سهلا

Selamat Datang | Dua puluh tahun aku menyelami dunia, itu sangat membantuku dalam memahami apa yang Tuhanku inginkan dariku untuk kukerjakan (al-Syafi`i) | Sama-sama berbuat, hanya yang tanpa ilmu lebih banyak MERUSAK-nya daripada membangun-nya (Hasan Bashri)| Mohon masukan...
Showing posts with label Pena Bulu. Show all posts
Showing posts with label Pena Bulu. Show all posts

Tuesday, December 8, 2015

Berharap Sekaligus Getir

Seorang kawan bertanya kepada saya mana cetakan terbaik untuk sebuah kitab klasik karya seorang ulama. Teman yang satu ini sedang semangat berburu kitab. Saya senang lagi bersyukur hidup di sekitar orang-orang semangat seperti dia, saya berharap bisa ketularan gairahnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga gairahnya tidak hilang untuk menggelontorkan ratusan pound demi mengumpulkan buah pena para ulama. Tak apa sekarang jor-joran membeli kitab tanpa perlu khawatir kalau misalnya suatu saat hendak kawin dibayar pakai apa. Allah Maha Kaya.

Saya pun menunjukkan jilid pertama dari terbitan pemerintah Mesir, Maktabah Usrah. Dia kaget dengan harganya yang cuma 5 Le. Terbahak saya merespon kagetnya. Tapi saya pun segera ngeh dia termasuk yang datang ke Mesir di tahun-tahun sekarang. Negeri ini juga makhluk, normal kalau ada perubahan. Untuk kali ini, perubahan yang ingin saya curhatkan adalah soal penurunan kesaktian dari beberapa lembaga pencetak kitab klasik murah seperti Maktabah Usrah di atas. Dulu, Maktabah Usrah dan sejenisnya termasuk toko buku yang paling ditunggu kabarnya oleh teman-teman al-Azhar. Betapa tidak? Kitab-kitab penting seperti Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun, al-I`tishâm dan al-Muwâfaqât-nya Imam al-Syathibi, Kumpulan Tulisan Muhammad Abduh, sampai al-Hayawân-nya al-Jâhizh dicetak dengan harga murah bahkan tidak masuk akal. Per jilidnya tidak lebih dari 8 Le.

Agak lucu sebenarnya memegang buku terbitan Maktabah Usrah. Di sampul depan tertera judul buku, di sampul belakang ada foto (mantan) ibu negara Mesir yang menjadi penggerak ‘Festival Membaca untuk Semua’ sebagai syiar dari pencetakan kitab-kitab murah tersebut.

Sekarang beda, lembaga-lembaga di atas tidak lagi heboh dengan penerbitan kitab klasik versi murah. Asumsinya, subsidi yang awalnya disalurkan untuk mencetak kitab klasik habis atau dialihkan untuk menopang negara yang sedang penyembuhan. Sehingga lebih banyak buku-buku tulisan cendekiawan kontemporer itupun tidak murah. Tidak jelek kontemporer, toh kita juga orang zaman ini. Tapi, bukankah mereka bisa jadi cendekiawan kontemporer salah satunya karena membaca kitab klasik? Sekarang buku-buku rata-rata mahal. Menyesuaikan dengan cost hidup di timur tengah yang merangkak naik menyesuaikan dengan keramaian yang terjadi.

Saya hanya bisa berharap untuk esok yang lebih murah. Menurut media, banyak saudara muslim di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia yang sekarang bangkit melawan membuktikan diri bahwa mereka juga layak menjadi pemimpin dan memberi solusi kehidupan. Menurut hemat saya, ketika mengatasnamakan Islam sudah seharusnya juga memperhatikan serius pencetakan kitab-kitab klasik ulama supaya mudah diakses masyarakat wa bi’l khusus para pelajar agama yang nantinya akan jadi inspirator masyarakat. Dalam hadis masyhur, di akhirat tinta ulama lebih berat daripada darah syuhada. Padahal pangkat syuhada sudah sedemikian agungnya. Perlengkapan yang mereka butuhkan di medan laga juga dituntut untuk selalu diperbaharui. Berarti ada sesuatu yang tak kalah agung dalam kitab-kitab klasik itu.

Karena orang muslim berjuang bukan sekedar untuk membangun jembatan, terowongan dan gedung-gedung baru. Sebenarnya ia berjuang untuk sesuatu yang lebih besar, ialah membangun peradaban yang inspirasinya adalah al-Quran dan Sunnah. Sementara kitab-kitab klasik itu selain membantu orang muslim meraih pemahaman al-Quran dan Sunnah yang sahih, ia juga merekam perjuangan umat selama berabad-abad dalam memberikan jawaban atas persoalan yang bermunculan, berdasarkan kacamata Islam.

Ekstrimnya, katakanlah nanti kita sudah menang perang melawan Amerika, sekutunya, dan yang sepertinya bukan tapi aslinya juga sekutunya. Sehari kita bersuka cita, esok hari gantian kita yang saling tusuk sesama muslim memperdebatkan siapa yang selanjutnya jadi pemimpin dan pendapat siapa yang dipakai. Itu ditakutkan terjadi ketika orang Islam sudah tidak lagi punya bukti tertulis bahwa Imam Ahmad bin Hanbal selalu mendoakan Imam al-Syafi`i usai salat dan menyebut beliau layaknya mentari bagi bumi. Yap, Imam al-Syafi`i yang juga mengakui kepakaran Imam Ahmad dalam hadis.

Kalaupun ada kitab-kitab itupun langka, cetakan Brill[1] pula...

Umat Islam tidak boleh tidak unggul dari Brill Publisher

#save_our_kitab





[1] Penerbit yang dikelola orang kafir (https://en.wikipedia.org/wiki/Brill_Publishers)

Monday, May 11, 2015

BUbuR kacang iJO

Bubur kacang ijo selanjutnya disebut burjo saya akui saya menggemarinya cukup berat. Menggemari atas dasar rasa, bukan semata indera kelima-lima. Bentuk burjo tak cukup indah kalau dilihat. Perhatikan saja warnyanya yang suram itu. Aromanya? Dia tidak dikenal wangi, beda dengan nasi gosong. Kalau soal rasa sebenarnya nanggung. Maksudnya, di satu sisi burjo itu menyegarkan tapi masih kalah segar dengan es teh Indonesia (saya sebut Indonesia karena ada teh Mesir dalam hidup saya). Ia juga mengenyangkan, tapi dengan gado-gado yang tidak pakai nasi saja kalah. Menggunakan indera peraba? Masak mau dimasukkan mulut dipegang-pegang dulu? Indera apa yang kurang? Pendengaran? Ampun deh...Tapi itulah namanya rasa, tidak melulu alasannya indera kelima-lima.

Meskipun penggemar burjo, tapi tidak semua burjo itu layak digemari. Biasanya burjo-burjo liar yang buka dipinggir jalan. Mereka mengaku dari Jawa Barat, tapi seperti halnya es Bandung dan martabak Mesir, menurut saya di Jawa Barat tidak seheboh itu. Beda ceritanya dengan siomay Bandung yang nyata wujud dan enaknya.

Lebih mengecewakan lagi, sebagian yang menjajakan burjo di pinggir jalan itu kurang dedikasinya. Karena niat awalnya hanya membuat tempat nongkrong anak muda, atau tempat penyaluran hasrat makan akhir bulan mahasiswa. Jadilah burjo yang terlalu encer de el el de el el. Burjo bukan soal uang semata.
Saya masih tinggal di Kairo, orang Mesir tidak kenal burjo. Jelas tidak masuk makanan rakyat, beda sama batotis (kentang!). Untuk memenuhi keinginan terhadap burjo, saya hanya bisa pasif, dibuatkan. Saya tidak bisa bikin burjo saya akui. Dulu pernah mencoba, tapi pandannya terlalu banyak sehingga rasanya malah mint, bukan kuah burjo.

Adik kelas saya ada yang sering dan cukup pandai memasak burjo kalau main ke rumah. Dia mahasiswa sejarah, saya ingin bertanya apakah bangsa Mesir kuno, eropa kuno atau peradaban mana saja lah yang punya sejarah dengan burjo. Tapi saya masih punya malu bertanya seperti itu.

Sekali! Burjo pernah mengecewakan saya. Waktu itu kakak kelas saya merendam kacang hijau yang masih keras semalam, tapi rendamannya itu tidak dilanjutkan dengan direbus diatas kompor, rendamannya sampai berhari-hari. Jadilah biji-biji kacang hijau itu mengeluarkan ekor. Kecambah deh!

Seperempat abad lebih sedikit saya hidup, saya mencatat ada empat burjo yang berkesan dalam hidup saya. Supaya lebih dramatis, saya sebutkan tiga dulu dan ternyata ketiganya bukan yang saya benar-benar rindukan.

1.      Burjo Muallimin. Selama enam tahun saya menghabiskan masa remaja di sana. Pada jam istirahat di sela-sela proses pengkaderan (yidii...) rutin 24/7 ada kakek penjual burjo yang mangkal di madrasah. Burjo ini moderat. Dia tidak menghegemoni seperti bakwan kawi tapi juga tidak medioker seperti pempek imitasi yang orang Sumatera asli[1] mungkin berlepas diri darinya. Kehadirannya adalah penyegar bagi kerongkongan yang baru saja dimasuki bakwan kawi atau cilok yang membuat seret kalau tidak dikasih minum. Setelah burjo, kembali ke kelas siap belajar ushul fikih supaya besok besar tidak cuma bisa taqlid. Apalagi sekedar berteriak “Kembali ke al-Quran dan Sunnah!” Tapi...ah sudahlah...

Satu hal memang yang membuat saya respek. Penjualnya adalah kakek tua sabar yang tidak bermental kompeni (sekali lagi) seperti bakwan kawi atau lebay urusan costumer service-nya seperti cilok. Bapak itu sabar meskipun gerobaknya pernah ngglimpang tanpa alasan ketika berjualan.

2.      Burjo Nitikan. Nitikan adalah nama sebuah kampung dekat rumah saya. Setiap Ramadan, pimpinan ranting Muhammadiyah setempat selalu membuat heboh dengan program berjualan jajanan buka puasa yang dinamai JALUR GAZA! JAjanan Lauk sayUR Gubuk Ashar Zerba Ada (tepuk tangan untuk kreativitas bahasa warga Jogja). Penjual burjo yang satu ini sepertinya franchise ala Madura. Saya perlu bertanya kepada sahabat-sahabat dari Madura apakah benar di sana ada makanan khas berupa burjo? Karena setahu saya baru muncul beberapa tahun belakangan, beda dengan sate madura yang cukup melegenda.

Burjo yang satu ini saya sebut inovatif karena berani out of box. Selain santan, ia berani mencampurkan sirup, susu kental dan roti sebagai teman kacang hijau dan ketan hitam. Es nya pun es gosok tidak prongkolan yang kadang membuat menderita kalau sudah suap terakhir. Segarnya luar biasa. Selepas sore bersepeda menikmati cahaya senja kota Jogja, sambil basuh keringat menikmati burjo madura.

Penjualnya adalah seorang bapak ramah yang nampaknya benar asli Madura.[2] Sudah beberapa tahun beliau berjualan di Rafah (plakk...karena mangkalnya di perbatasan ‘Jalur Gaza’ ). Meskipun sepertinya franchise, tapi punya bapak yang satu ini enaknya beda. Istilahnya sudah Talaqqathu al-Ummatu bi’l Qabûl. Saya pernah mencoba burjo semacam itu di tempat lain, ternyata rasanya beda jauh! 

3.      Burjo lari pagi. Ayah saya rutin lari pagi dan selalu memotivasi anak-anaknya untuk rajin olahraga. Supaya besok besar tidak penyakitan. Hampir setiap pulang beliau bawa burjo, kalau tidak ya bolang-baling. Saya tidak tahu burjo itu beli dimana, tapi rasanya enak sekali. Kacang hijaunya sudah menjadi bubur sehingga tidak memunculkan gap antara air dan kacang hijau di mulut yang kadang mengacaukan sensasi. Hanya saja, burjo itu sepertinya hanya tersedia panas, atau memang hanya dibelikan yang panas. Sehingga harus ditunggu supaya dingin di lemari es. Ini yang kadang butuh waktu, kadang terlupakan karena semua orang rumah sibuk beraktifitas.

Bukan salah satu dari ketiganya yang nomer wahid. Ada satu penjual burjo yang selalu ibu stop setiap siang ketika saya masih belum sekolah dulu. Ini merupakan bagian dari usaha ibu saya untuk meningkatkan gizi putra putrinya. Alhamdulillah dua anaknya sudah jadi sarjana, satu baru masuk kuliah tapi tidak di Indonesia. Sekarang semua sudah tumbuh besar-besar meskipun besar itu relatif.

Burjo yang satu ini beda. Sampai sekarang hidung saya masih bisa samar-samar membayangkan aromanya. Rasanya pun masih terkenang di pertemuan lidah dengan kerongkongan. Penjualnya nampak berdedikasi, terbukti dari es batu yang sudah benar-benar dihancurkan. Itulah bedanya, es batu yang bisa disendok dari termos seperti nasi lebih bisa mengupgrade kualitas sebuah burjo. Jadilah segala kekurangan di awal bersatu menjadi kenangan.

(Maaf tidak pakai foto, selamat menikmati burjo walau hanya dalam bayang)




[1] Saya menghargai perbedaan pendapat di kalangan orang Sumatera mengenai siapakah yang pertama kali membuat pempek
[2] Perhatian: sekarang bapak itu sudah bisa bahasa Jawa meskipun agak kaku

Wednesday, September 17, 2014

Buku Ayahku, Buku Keluargaku

Saya patut bersyukur. Di rumah Jogja, ada rak-rak buku raksasa yang menghiasi dinding rumah dan tidak ada yang kosong dari buku-buku ayah saya (masih di urutan pertama terbanyak), juga buku-buku milik ibu dan ‘anak-anak’ (saya dan kedua adik saya). Waktu kecil dulu (alhamdulillah sekarang saya sudah besar) saya sering melihat-lihat buku-buku ayah. Di antara buku-buku tersebut, ada yang isinya masih terekam baik di memori. Ini saya kisahkan, kisahkan dengan makna seperti riwâyah bi’l ma`na. Ada sedikit penyesuaian bahasa karena tuntutan zaman.

Kasykul. Judul dari sebuah buku kecil bersampul merah, isinya cerita-cerita unik. Salah satu kisahnya tentang ‘Konspirasi Yahudi’. Alkisah, ada seorang Yahudi yang kebetulan namanya sama dengan saya, Musa. Ia hidup di tengah kaum muslimin. Tentunya, ia selalu dapat mengamati kegiatan kaum muslimin sehari-hari termasuk solat berjamaah.

Mendengar suara adzan, bukannya hatinya tercerahkan. Tumbuh niat untuk menjalankan salah satu protokol zion (entah nomer berapa), membuat makar terhadap harta milik kaum muslimin. Kali ini salah satu pasal protokolnya berbunyi, “Nyolong sendal (mencuri sandal-Jw) milik kaum muslimin”. Dia memutuskan untuk menyerang ketika kaum muslimin sedang solat, karena ia tahu umat Islam bakal konsentrasi ibadah dan sandal-sandal ada di luar masjid. Tak lama kemudian, ia mendengar sang imam mengumandangkan takbir dan membaca bacaan tertentu. Musa pun mulai beraksi.

Ketika di tangan kanannya sudah tergenggam beberapa pasang sandal milik kaum muslimin, ia mendengar sang imam melantunkan. “Wa mâ tilka bi yamînika yâ Mûsâ...” (Apa yang ada di tangan kananmu Wahai Musa?). Kontan ia kaget bukan kepalang sekaligus merinding buah dari ke-GeeR-annya. Bagaimana mungkin sang imam tahu apa yang ia perbuat padahal ia berada di barisan terdepan dan menghadap ke arah yang berlawanan?

“Wah hebat juga umat Islam ini, ternyata setingkat itu kemampuannya!”, pikirnya. Selang beberapa waktu, ia dapat hidayah dan masuk Islam. Sekian ceritanya, karena memang ‘Kasykul’ isinya cerita pendek.


|Nikmati cerita ini dengan pikiran sederhana, tak perlu penafsiran macam-macam apalagi hermeneutika. Karena saya hanya ingin bernostalgia dengan buku-buku ayah saya, buku-buku keluarga saya. Juga ingin mohon doa, supaya terlecut untuk lebih rajin, efektif dan ikhlas baca|






Wednesday, October 2, 2013

Berbahasa untuk Memahami

Manusia sekaliber Ahmad bin Hanbal (241 H) saja pernah memujinya sebagai matahari yang mencerahkan dunia. Pasti dia bukan orang sembarangan. Jelas, ialah manusia pertama yang merumuskan bagaimana memahami al-Quran dan hadis nabi. Beberapa kalangan sampai menyebutnya Sang Pembaharu yang hanya lahir 100 tahun sekali. Ia adalah Muhammad bin Idris atau yang populer dengan panggilan Imam al-Syafi`i (204 H).
 
Imam al-Syafi`i bukanlah malaikat, ia manusia biasa yang pernah bayi, remaja, tua dan akhirnya meninggal. Tapi melihat pencapaian yang ia raih, menarik rasanya untuk mencari tahu bagaimana ia mencapainya. Mencari tahu ini masih realistis selama masih percaya akan pilihan Tuhan akan Sang Pembaharu per satu abad. Masih realistis karena sisi ‘manusia’ yang tidak mungkin lepas dari Imam al-Syafi`i. Sehingga jalan yang sama bisa kita lalui, meskipun level yang sama menjadi mission impossible untuk digapai.

Salah satu sisi yang menarik untuk diketahui adalah masa-masa kursus bahasa Arab di Bani Hudzail, salah satu suku di Arab. Pada masa ini, Imam al-Syafi`i menghafalkan semua syair Bani Hudzail. Menghafal bukan perkara yang sulit buat Imam al-Syafi`i, ia dianugerahi kemampuan menghafal semua yang ia dengar dan lihat. Bekal kursus inilah yang membentuk kemampuan berbahasa Imam al-Syafi`i yang nantinya menjadi bekal ketika ia hendak mengambil mutiara-mutiara hukum dari al-Quran dan hadis. Karena al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab, hadis pun dituturkan oleh orang Arab terfasih, Nabi Muhammad Saw. yang langsung dibina adab lisan dan jiwanya oleh Allah Swt. Addabanî Rabbî fa Ahsana Ta’dîbî. Prof. DR. Ali Jum`ah, mantan mufti Mesir, pernah bercerita, saking fasihnya Imam al-Syafi, perkataannya bisa menjadi patokan dalam bahasa Arab.

Semua bahasa mengalami proses pembentukan dan pengembangan. Menurut Prof. DR. Ahmad Fuad Basya, seorang pakar fisika Mesir yang juga concern dalam bidang Islamisasi ilmu pengetahuan, bahasa Arab yang digunakan masyarakat pada masa turunnya al-Quran adalah kombinasi antara bahasa Nabi Ismail As.,bahasa Ibrani, dengan bahasa kabilah Jurhum yang datang untuk minum air zam-zam dan akhirnya kerasan di sekitar sumurnya. 

Prof. DR. Fathi Hijazi, seorang pakar balaghah dunia dari Universitas al-Azhar, menyampaikan bahwa bahasa Arab ini akhirnya sempurna 150 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw. Ia menjadi keunggulan masyarakat Arab ketika itu dan menjadi bukti kecemerlangan akal mereka meskipun tidak memiliki keunggulan di bidang ilmu eksak seperti bangsa Yunani, India, dan lainnya. Orang Romawi yang hidup di perkotaan membanggakan gladiator, adu manusia sampai mati. Tapi orang Arab yang hidup di tengah padang pasir atau gunung batu Makkah punya festival syair di Pasar Ukazh, lebih manusiawi dan lebih elegan. Tujuh buah syair terbaik ditulis dengan tinta emas dan dipajang di dinding tempat termulia, Kabah.

Syekh Fathi menambahkan, setelah bahasanya mapan, masyarakat Arab siap untuk menerima wahyu yang disampaikan orang terfasih diantara mereka. Mereka paham bahasa al-Quran, dan tahu bahwa gaya bahasa al-Quran lebih unggul dari bahasa keseharian mereka. Sehingga mereka sadar bahwa al-Quran bukan rekaan manusia, melainkan kalam Tuhan. Dengan ini, seharusnya mereka langsung beriman.

Setelah menghafal al-Quran, kemampuan dasar yang menjadi harga mutlak harus dimiliki ulama adalah bahasa Arab meskipun yang bersangkutan bukan orang Arab, dan memang yang bisa menguasai bahasa Arab tidak harus orang Arab. Imam Sibuyah yang menulis al-Kitab, buku suci kaidah bahasa Arab juga bukan orang Arab (Maaf, saya mahasiswa jurusan hadis, diajarkan untuk tidak suka menyebut wayh yang konon salah satu nama setan. Jadi ketika menyebut Sibawaih jadi Sibuyah, Ibnu Rahawaih jadi Rahuyah, mohon dimaklumi).

Sebelum berbicara maqashid syariah, istihsan, maslahat, dan lain-lain, untuk memahami al-Quran dan hadis, ulama harus melalui fase pemahaman bahasa. Mulai dari makna teks perkata, kalimat, dan seterusnya. 
 
Musthafa Shadiq al-Rafi`i, sastrawan Mesir
Orang boleh membaca karya-karya Fikih Zakat, Fikih Prioritas, Fikih Jihad, dan fikih-fikih lainnya tulisan Syekh al-Qaradhawi, tapi jangan lupa, Syekh al-Qaradhawi pernah bercerita dalam Ibnu’l Qaryah wa’l Kuttâb-nya bahwa ia sudah unggul dalam bahasa Arab ketika masih berstatus pelajar SMA al-Azhar. Ramadhan al-Bouti juga tidak jauh berbeda. Penulis Kubra Yaqiniyyât, al-Salafiyyah, dan buku-buku lain pembantah materialisme ini  pernah mengalami masa-masa ngefans dengan tulisan Mushthafa Shadiq al-Rafi`i, sastrawan Mesir. Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya`rawi sama, bekal ilmu balaghah-lah yang membantunya untuk memetik mutiara-mutiara al-Quran yang menyinari penduduk Mesir. Siapa orang Mesir yang tidak kenal dan tidak cinta dengan Syekh al-Sya`rawi? Oh ya, Syekh al-Qaradhawi pernah bercerita bahwa Syekh al-Sya`rawi adalah guru bahasa Arabnya di SMA al-Azhar.

Meneruskan pesan Syekh Fathi Hijazi ketika daurah ilmu balaghah di Madhyafah depan al-Azhar, apapun disiplin ilmu kita, peganglah pohon bahasa Arab dengan segala cabangnya terlebih dahulu sekuat tenaga.
Syekh Fathi Hijazi: kata Prof. DR. Ridha Zakaria, pakar hadis al-Azhar, Syekh Fathi yang juga guru SMA-nya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ilmu balaghah.



Tuesday, October 1, 2013

Al-Qur’an; Turun di Hijaz, Dibaca di Mesir


Agak gimana, gitu kalau mengaku mendalami agama tapi tidak hafal al-Quran. Meskipun Imam al-Ghazali (505 H) tidak mempersyaratkan harus hafal al-Quran kalau mau jadi mujtahid, cukup mengetahui ayat-ayat hukum saja. Tapi sekarang, siapa ulama yang tidak hafal al-Quran?

Meskipun –sependek pengetahuan saya- al-Quran tidak pernah turun di Mesir, tapi Mesir ini istimewa. Mesir adalah negeri para qurrâ’ alias ahli baca al-Quran. Salah seorang dai dari Arab Saudi, Syekh Muhammad al-Uraifi dalam sebuah khutbahnya pernah mengatakan bahwa siapapun ahli baca al-Quran di dunia ini, sanadnya pasti bersambung ke salah satu ulama al-Quran di Mesir. Salah seorang senior saya pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang sampai sekarang saya masih berharap bisa menemukan siapa yang mempopulerkannya, “al-Quran itu diturunkan di Hijaz, ditulis di Iraq (mungkin maksudnya zaman Khalifah Ali ketika menambahkan titik dalah tulisan al-Quran yang dulu tak perlu bertitik), dan dibaca di Mesir”.

Banyak pakar qira’at di Mesir, misalnya Syekh Abdul Basith Abdul Samad, kemudian Syekh Ahmad Isa al-Ma`sharawi, dan ada juga yang (katanya) termasuk paling senior di dunia, Syekh Abdul Hakim Abdul Latif. Oh ya, Universitas al-Azhar membuka fakultas al-Quran di kota Thantha. Bagi yang ingin belajar di sana, harus lulus dulu Ma`had Qira’at di Syubra al-Khaima.
 
Syekh Abdul Hakim Abdul Lathif (jubah coklat) & Syekh Ahmad Isa al-Ma`sharawy (putih)
Sanad? Bukannya itu dipakai di hadis saja? Tunggu dulu, tunggu dulu, sanad atau rangkaian periwayatan merupakan keistimewaan umat ini. Ingat bahwa agama Islam ini diajarkan secara turun temurun, dari mulut ke mulut, akal ke akal, dan hati ke hati. Termasuk al-Quran, Rasulullah Saw. talaqqi al-Quran dari malaikat Jibril. Kemudian Rasulullah Saw. menjadi mentor para sahabat yang menjadi mentor para tabi`in, dan seterusnya sampai generasi kita, sampai kiamat. Memang sekarang ada mushaf, tapi belum tentu orang yang punya mushaf bisa baca al-Quran. Simpelnya, orang yang membaca al-Quran tanpa guru akan membaca Âlâmâ ketika menemukan huruf alif, lam, dan mim di awal al-Baqarah.

Sejak pertama datang, saya terus mencari guru al-Quran. Mulai dari salah seorang Syekh di Masjid Faidhurrahman, 8th district, Nasr City. Hanya karena sebatas menyimak, tidak ada aturan khusus, saya kalah oleh inkonsistensi.

Pernah juga setoran dengan Syekh Abdullah di masjid al-Azhar. Beliau sangat ramah ketika bertemu di jalan, tapi galak ketika setoran. Saya pernah dikeplak gara-gara kurang satu kata ketika baca al-Quran (saya bangga dengan itu, pernah dikeplak oleh ahli al-Quran dari al-Azhar). Adek-adek kecil yang juga setoran ketika musim panas kadang juga tidak lepas dari belaian sayang rotan beliau. Tapi, banyak orang yang setoran dengan beliau di Masjid al-Azhar. Bahkan mahasiswi yang tinggal jauh dari al-Azhar pun sampai dibela-belain jauh-jauh ke al-Azhar untuk setoran dengan beliau. Lagi-lagi saya tidak bertahan lama dengan beliau, bukan karena dikeplak, tapi saya akui, memang untuk sukses butuh tekanan dan disiplin. You know what I mean.

Kemudian ketika pindahan ke Abbasea, saya pernah mencoba ngaji dengan Syekh Asyraf, muadzin Masjid al-Azhar di Masjid al-Ja`fari di dekat terminal Darrasah. Syekh Asyraf orangnya baik, kebiasaan beliau suka memotret muridnya ketika sudah lama bergabung. Selain itu, beliau sering memberi hadiah jus kotak, roti, bahkan pernah mengajak murid-muridnya untuk nyate ketika Idul Adha. Hanya metodenya kurang cocok. Selain karena harus setiap hari (kecuali Selasa dan Jumat) dan itu tidak cocok dengan saya yang mudah bosan, dan saya sering mengeluhkan perbedaan instruksi bacaan para guru. Maklum, setelah nyetor dengan Syekh Asyraf, kita dioper ke murid-muridnya yang bermacam-macam karakter dan penekanan tajwidnya. Maaf ya Syekh, kayaknya saya belum bisa konsisten setoran dengan hadratak...
Tidak lama menghayati keramahan Syekh Asyraf
Salah seorang kawan yang baik hati menunjukkan tempat ngaji Syekh Nabil di dekat Masjid Husein. Setor seminggu dua kali dan  ada muraja’ah yang termanhaj, cocok buat saya. Saya memang tidak nyetor dengan Syekh Nabil, tapi dengan murid beliau, Syekh Zaid yang baik hati. Beliaulah yang mencoba untuk saya teladani.

Syekh Zaid tidak pernah marah apalagi ngeplak. Bahkan menurut saya, beliau terlalu baik. Karena terlalu baik itulah justru yang memberikan tekanan lebih untuk perfect ketika setoran dan muraja`ah. Pernah suatu ketika, karena memang kurang persiapan, saya glagapan ketika setoran sehingga harus mengulang di pertemuan berikutnya, bahkan muraja’ahnya tidak jauh berbeda. Tapi waktu itu saya putuskan untuk mencoba lagi setelah seorang kawan nyetor. Adzan dhuhur berkumandang, di ruangan tinggal saya dan Syekh Zaid. Beliau mengajak saya salat di Masjid Husein. Ketika salat, hati ini rasanya tidak enak, merasa bersalah kenapa kurang persiapan, dan pasrah bagaimana nanti ketika setoran setelah salat. Seusai berdoa, “Masih ada muraja’ah (yang tadi harus diulang) ya? Gimana kalau pertemuan depan saja?” Itulah kata-kata yang keluar dari senyum Syekh Zaid. Ampun deh, senyummu menyanyat hatiku Syekh.

Tekad untuk selalu siap dan tidak glagapan lagi akhirnya cuma musiman. Terkadang bisa nyetor dan muraja`ah lancar, tapi masih beberapa kali terulang yang namanya glagapan. Suatu ketika, saya mencoba curhat ke beliau. Nah, inilah yang saya suka dari semua guru di Mesir. Tidak ada namanya belas kasihan (baca: pemakluman) untuk setiap kelemahan dalam proses belajar. Menjadi seorang pakar agama berarti menjadi manusia sejati yang mempunyai sifat tegar dan tidak banyak alasan. Karena memikul risalah itu tidak ringan kawan, hanya jiwa yang kuatlah yang bisa memikulnya. Semua kesempatan adalah kesempatan terakhir karena setiap kesempatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Alasan studi s2 pun saya sadari tidak boleh diajukan untuk dapat kemakluman. Mau apalagi kalau tidak hafal? Bagaimanapun ketika sudah bertekad menghafal al-Quran tidak ada kata mundur. Karena mundur berarti menolak membuka pintu hati untuk menjadi jalur periwayatan kalam Allah yang sudah tersambung dari Rasulullah Saw., sahabat, dan seterusnya.

Berulang-ulang! Itulah satu-satunya solusi usaha manusia untuk menghafal al-Quran. Itulah mengapa Syekh Zaid tidak pernah meminta banyak-banyak setoran, yang penting setiap pertemuan ada hafalan baru dan muraja`ah hafalan lama. Dalam hal muraja`ah yang kata beliau tidak kalah penting, ketika muraja`ah sudah menyamai hafalan baru, ulang lagi dari awal al-Fatihah. “Kamu harus baca semua yang kamu hafal dalam waktu seminggu.” Itu pesan beliau di salah satu setoran glagapan saya. Metode berulan-ulang ini sangat manjur. Salah satu bukti suksesnya ada pada Syekh Ramadan al-Buthi. Menurut salah satu sumber riwayat hidup beliau, karena beliau sering khatam al-Quran, beliau sampai tidak perlu susah-susah ikut program tahfidz untuk bisa hafal al-Quran.

Dua pertemuan lalu, Syekh Zaid izin sakit. Ahad kemarin, beliau sudah masuk, tapi ada yang tidak beres dengan pipi beliau yang membengkak. Ya Allah, dalam keadaan seperti itu beliau masih kuat bertugas menyimak jam pagi. Saya sampai tidak tega untuk melanjutkan sesi muraja`ah, karena takut beliau harus banyak berkata untuk membetulkan bacaan saya. “Minggu depan aja ya Syekh...”.”Iya, Jazakumullah Musa..” 

Hafal al-Quran itu bukan hasil usaha manusia. Karena al-Quran adalah kalam Allah, sesuai kehendak-Nya al-Quran mau ditanamkan di hati siapa. Ya Allah, kondisikan hamba untuk layak menerima dan membaca al-Quran...

Tuesday, August 6, 2013

Tarawih di Mesir (Kairo aja kali ya...) Part II

Oke masuk part 2....
  1. Masjid di daerah Gami'. (Apa namanya ya?) Ini adalah masjid yang sudah ter-Indonesiakan.Betapa tidak, masjid ini berada di pinggir jalan besar daerah Gami', 10th district, yang merupakan "pindahan dari NKRI". Jelas saja, banyak mahasiswa yang tinggal di sana, banyak restoran Indonesia, kantor konsuler KBRI juga ada di sana. Bahkan masjid ini pun sering diimami oleh mahasiswa Indonesia. Selain cepat, yang membuat masjid ini lebih Indonesia adalah jama'ah tarawih yang cukup banyak diisi orang Indonesia. Bahkan kata seorang teman," Wah, kayak di Indonesia lah, banyak orang Indonesia, tuh liat aja banyak mahasiswi pulang tarawih bawa rukuh, peris kayak di Indonesia".
  2. Masjid Bilal. Sebenarnya masjid ini tidak terlalu besar. Tapi kata temen-temen mahasiswa,"Syeh Ridho sering ngimami di sini". "Bacaan imamnya enak". Maka begitulah masjid di daerah Makrom Abied ini menjadi cukup terkenal.
  3. Masjid Ufo. Sebenarnya masjid ini bernama Masjid al-Rahmah. Dasar orang Indonesia, karena memang bentuk mirip UFO, jadilah Masjid UFO. Salat tarawih di sini dikenal cukup cepat. Sama seperti masjid di dekatnya yaitu...
  4. Masjid SIC (Sekolah Indonesia Cairo). Kalau masjid di poin ke-5 itu ter-Indonesiakan, Masjid SIC memang benar-benar masjid Indonesia. Dikelola oleh KBRI Kairo, dan jama'ahnya pun orang Indonesia. (Mana ada orang Mesir mau dengar kultum atau khutbah Jumat Bahasa Indoensia? Kecuali orang Mesir yang belajar bahas Indonesia di Pusat Kajian Indonesia.) Jama'ah masjid kecil ini kebanyakan adalah keluarga KBRI mulai dari Pak Dubes sampi Local Staff. Penceramah pun diambil dari mahasiswa Indonesia. Biasanya, KBRI menyediakan jemputan bagi mahasiswa Indonesia yang tinggal di Nasr City agar menambah Indonesia..eh maaf, menambah ramai jama'ah tarawih, karena masjid ini jauh dari tempat tinggal mahasiswa. Masjid ini terletak di daerah Dokki yang cukup dekat dengan KBRI (setidaknya lebih dekat dari 10th district). Yang paling asyik, setiap habis tarawih ada bakso, pempek, atau jaburan buat jam'ah bi balaasy alias free bin gratis...alhamdulillah....:P huehehehe (tapi jujur, seumur hidup kayaknya penulis paling banyak baru dua kali salat di sini lho...jadi kalau hanya demi bakso dan pempek masak harus jauh-jauh ke Dokki? huehueheuhue)
  5. Lhaa...ini, masjid yang berada di daerah sekitar rumah penulis di daerah Abbasea SQ, Ahmad Saeed Street. Tak elok rasanya menamakan masjid ini dengan Masjid Pizza walau memang masjid kecil ini bersebelahan dengan penjual Pizza Arab yang namanya Pizza Mama Mia. Tapi nama masjid ini apa ya? Sudah, sebut saja Masjid Jalan Ahmad Saeed. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Hanya bagi mereka yang suka "lebih cepat lebih baik" atau sedang lelah tapi tetap ingin mengambil keutamaan tarawih, masjid ini bisa jadi alternatif. Demi Allah, seumur hidup penulis sepertinya kok belum pernah salat tarawih dengan kecepatan seperti ini. Berangkat dari rumah ketika masjid lain masih adzan, hanya pergi ke jalan besar dengan sedikit lari, sudah masbuq salat Isya'-nya. 11 rakaat dengan 3 witir. Huff, entah berapa RPM (raka'at per menit) kalau pinjam istilah seorang Ustadz penceramah di ar-Royyan. Ketika membaca Surah Thaha misalnya. Hanya tiga ayat per rakaat (silahkan dibuka surah Thaha), membacanya pun tidak pelan-pelan, bahkan cepat. Sebenarnya masjid ini kecil, hanya jama'ah selalu membludak sampai ke jalan raya. Ya, husndzan saja dengan orang-orang. Mereka tetap terlihat khusyu menjalankan salat. Meskipun dengan aroma Karbon Monoksida dari knalpot bis dan mobil, tikar yang hangat karena aspal dan suara greeng..greeng...(khusyu' bukan urusan sesama manusia, itu adalah urusan manusia dengan Allah Swt.)
  6. Sebagai gong penutup, satu masjid yang tak boleh ketinggalan. Masjid pertama yang dibangun di Afrika, dibangun oleh sahabat Amr bin Ash RA. di Kota Fusthath (sekarang udah gabung dengan Kairo yang makin meluas hehe). Jami' Amr Ibn al-Ash. Akses ke masjid ini bisa ditempuh dengan metro turun di Mar Girgis. Sebuah Gereja Koptik Besar. Jalan 100 m sampailah di Jami; Amr Ibn al-Ash. Silahkan cari tahu siapa Syeh Jibril. Beliaulah yang menjadi imam, khususnya di tanggal 27 Ramadhan. Salat di tanggal ini, jangan harap dapat tempat di dalam masjid apabila berangkat menjelang asar. Usahakan salat dzuhur di sini apabila memang niatnya salat tarawih saking penuh dan larisnya. Kata orang, bacaan Syeh Jibril itu indah dan lama. Inilah yang membuat orang-orang berbondong datang ke sini khususnya 27 Ramadhan. Paling lama adalah rakaat terakhir salat witir. (Oh ya, di Mesir banyak juga yang melaksanakan salat witir 2 rakaat salam kemudian 1 rakaat salam). Banyak orang yang menangis di sini. Kalau kita harus husnudzan, suasana yang begitu khidmatlah yang membuat air mata keluar.....tak banyak kata lanjutan, hanya harapan agar Ramadhan kali ini diberi kesempatan untuk salat di Masjid ini, dan selanjutnya...di masjid paling mulia AMIN...

Tarawih di Mesir (Kairo aja kali ya...) Part I

Ramadhan kareem, Kullu sanah wa anta bi khair...
Tidak ada di kolong langit ini, seorang muslim pun yang bersedih dengan datangnya Ramadhan. Bulan di mana Allah Swt. mengobral pahala dan ampunan. Membuka selebar-lebarnya ar-Royyan. Menurunkan hidangan dari surga. Siapa yang tidak senang? Mesir, negeri para Nabi, negeri seribu menara (seribu masjid), juga berpartisipasi menyambut datangnya Ramadhan. Ramadhan di Mesir selalu indah dan semarak, meninggalkan kesan tersendiri bagi siapa yang pernah melalui Ramadhan di bumi Musa ini.

Salah satu sunah Rasulullah Saw. di bulan Ramadhan adalah salat tarawih. Ya, dari Maroko sampai Merauke, jama'ah tarawih selalu diselenggarakan oleh manusia-manusia muslim di bumi ini. Memang hukumnya sunah, tidak sampai berdosa apabila tidak dikerjakan, tapi itulah. Terlalu besar pahalanya untuk ditinggalkan. Kaum muslimin di Mesir tidak ketinggalan dalam hal ini. Setelah berbuka bersama di "maidat al-Rahman" yang diadakan di berbagai tempat oleh para saudagar Mesir, kaum muslimin bersiap menjalankan salat tarawih di masjid-masjid yang tiap beberapa langkah dapat dijumpai di kota megapolitan Afrika (kata Anwar Sadat) ini.

Sebenarnya menurut kebanyakan ulama, salat tarawih di masjid itu lebih utama daripada salat di rumah, jadi lebih asyik rame-rame pergi ke masjid salat mengikuti imam sampai selesai witir sekalian. Rame-rame shalatnya, "rame" juga pahalanya karena mengikuti sunah Rasulullah Saw., kita pun bisa menambah variasi amalan setelah salat berjamaah ini. Bisa belajar, tadarus al-Quran, atau bisa juga langsung tidur bagi yang khawatir telat bangun sahur (sahur juga sunah Nabi Saw.).

Salat tarawih di Mesir hampir semua dikerjakan dengan dua rakaat salam. Memang Nabi Saw. lebih sering menjalankannya demikian. Rakaatnya pun berbeda, ada yang 11 ada yang 23 (plus witirnya). Tapi penulis secara pribadi belum pernah menjumpai ada "clash of civilization" hehe akibat perbedaan rkaat ini. Yah, semua memang ada dasarnya dan ini hanyalah masalah furu'iyyah. Itulah, oleh karena pengetahuan agama masyarakat yang cukup tinggi, tidak dijumpai "keributan yang tidak perlu diadakan".

Selain seribu masjid, Mesir juga negeri seribu kisah. Tiap jengkal tanah punya cerita kalau kata orang Mesir, bahkan urusan salat tarawih di berbagai Masjid, Mesir juga punya cerita....
  1. Jami' al-Azhar.(Ada perbedaan dalam penyebutan Jami' dan Masjid, kata senior, kata Jami' diperuntukkan bagi masjid yang ada tempat lapang bin kosong di tengahnya, konon dulu tempat khalifah atau Jenderal mengumpulkan pasukan Muslim makanya disebut Jami' , kalau Masjid ya...yang tidak ada lapangannya :D ) Secara pribadi, di sinilah penulis menjalankan tarawih pertama di Mesir. Dua puluh rakaat sahlat tarawih. Sangat lama. Tiap sepuluh raka'at disela dengan kuliah oleh imam tarawih atau da'i yang bertugas. Ketika itu pula ada pergantian imam tarawih. Maklum, dua puluh raka'at tarawih dengan bacaan yang lama pula. Salah satu keunikan tarawih di masjid ini adalah, digunakannya qiraat lain ketika membaca al-Quran. Jadi misalnya ketika membaca "Wa ad-Dhuhaa" dengan qira'at lain dibaca "Wa ad-Dhuhee". Tak masalah selama qira'at itu mu'tabarah, memenuhi syarat diterimanya sebuah qira'at, ada tiga (1) Sesuai dengan kaidah bahasa Arab (2) Sesuai dengan rasm Utsmani (3) Sanadnya mutawatir. (Apa-apaan itu? Bisa dilihat di buku Pengantar Studi al-Quran karya Manna' Khalil al-Qaththan, huehehehe). Ini dapat menjadi pengalaman baru dalam salat tarawih. Meskipun lamanya berjam-jam, tidak berarti pesertanya surut. Bahkan di bagian jama'ah putri kadang shafnya (sold out) alias gak muat lagi. Salah satu hal yang menarik di Mesir, banyak orang mempertimbangkan keindahan bacaan Sang Imam untuk memilih tempat salat tarawih.
  2. Masjid Husein. Secara geografis memang letaknya hanya di seberang jalan Masjid al-Azhar tapi keduanya seperti bertolak belakang dalam hal raka'at dan lamanya salat. Masjid Husein lumayan cepat. Selain hanya sebelas raka'at, bacaan imam tidak sampai satu Juz seperti rata-rata Masjid di Mesir. Satu hal yang menarik di sini. Setiap Ramadhan, Kementrian Wakaf (di Indonesia seperti DEPAG lah...) di Mesir mengadakan Multaqa Fikr Islamiy. Semacam seminar umum tentang Islam atau beberapa tema lainnya yang diisi oleh para ulama dan cendekiawan Mesir. Kadang Mufti Negara, Prof. DR. Ali Jum'ah, Menteri Wakaf Prof.DR. Hamdi Zaqzouq, atau ulama lain yang mengisi seminar umum ini. Jadi, rakyat Mesir tidak jauh terbiasa dengan yang namanya ulama'. Khusus bagi mahasiswa al-Azhar yang tinggal di asrama al-Azhar, bahkan disediakan jemputan khusus bagi yang berminat datang ke sini. Selain Multaqa Fikr Islami, Kementrian Wakaf juga membuka stan buku-buku, ensiklopedi, kitab tafsir dan kumpulan hasil muktamar Kementrian Wakaf. Dijual dengan harga yang cukup murah. Ensiklopedi Hadis, Fiqh, al-Quran dan Tafsir, Pemikiran Islam hanya dijual seharga 20-35 Le. Bahkan apabila beli satu set yang berisikan 7 buah ensiklopedi, dihargai sekitar 120 Le. (Sales ya Mas?) Pulang salat, bawa buku....
  3. Mosque of Light. Byuuh...namanya keren banget, ya itu bahasa Inggrisnya Masjid al-Nur di Abbasea SQ. Masjid ini seperti Masjid Istiqlalnya Mesir. Masjid ini memiliki perpustakaan kitab-kitab di basement-nya. Untuk salat tarawih, rata-rata imam membaca satu juz tiap malam. Masjid ini selalu ramai. Memang sepertinya tak ada yang istimewa. Hanya karena Masjid ini cukup luas jadi jam'ah bisa sedikit berlapang-lapang khususnya ketika mendengarkan kultum. Bahkan, ketika Imam duduk di kuris depan membacakan isi kitab, jama'ah asyik mendengarkan sambil menikmati air segar dan kurma yang disediakan. Bisa juga mendengarkan kultum sambil tiduran. Santai kan? Oh ya, kadang masjid ini juga didatangi ulama besar dan cendekiawan Mesir untuk membagi ilmunya.
  4. Masjid al-Salam. Terletak di 10th district, Nasr City, Cairo. Salah satu tempat favorit mahasiswa. Karena bacaan imam yang "enak didengarkan". Ya enak, ya lama. Begitulah Masjid al-Salam. Kata senior, salah satu Qari' terkenal di dunia, Yasir Salamah beberapa kali menjadi imam.
Karena terlalu panjang....bersambung aja ya di part 2