أهلا و سهلا

Selamat Datang | Dua puluh tahun aku menyelami dunia, itu sangat membantuku dalam memahami apa yang Tuhanku inginkan dariku untuk kukerjakan (al-Syafi`i) | Sama-sama berbuat, hanya yang tanpa ilmu lebih banyak MERUSAK-nya daripada membangun-nya (Hasan Bashri)| Mohon masukan...
Showing posts with label Wawasan Keislaman. Show all posts
Showing posts with label Wawasan Keislaman. Show all posts

Monday, January 18, 2016

Menghidupkan Sunnah a.k.a Nyunnah

Tulisan di bawah ini sebenarnya perasan dari kajian kitab atau lebih tepatnya disebut ensiklopedi ilmu mustalah hadis Fathu’l Mughits-nya Imam al-Sakhawi (902 H). Biasa diampu oleh Prof. Dr. Ahmad Ma`bad Abdul Karim, ulama hadis dan anggota dewan ulama senior al-Azhar, tiap Sabtu pagi di Masjid al-Azhar. Edisi kali ini pun saya sedang tidak hadir, hanya menyimak dari youtube  (https://www.youtube.com/watch?v=eAVnDwa9Wps&feature=share).

Nama Husain bin Mas`ud bin Muhammad al-Farra’ al-Baghawi (selanjutnya disebut al-Baghawi) sejujurnya masih belum sefamiliar al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, al-Mizzi, al-Dzahabi atau Ibnu Hajar bagi pelajar seperti saya. Dalam Siyar A`lâm al-Nubalâ’ (19/439) pun kesan saya biografinya tidak panjang-panjang amat. Meskipun bukan berarti diceritakan sebagai ulama biasa saja karena al-Dzahabi (748 H) dikenal sebagai biografer yang sportif. Penyematan sebutan al-Syaikh al-Imam al-`Allâmah al-Qudwah al-Hâfizh Syaikhu’l Islâm Muhyi al-Sunnah bagi al-Baghawi tetap dipertahankan oleh al-Dzahabi. Santri beliau Tajuddin al-Subki (771 H) dalam Thabaqât al-Syâfi`iyyah al-Kubra (6/75), kesan saya, tidak jauh beda paparannya. Maksud saya, coba bandingkan, misalnya dengan biografi Abu al-Hasan al-Asy`ari (324 H) dalam dua literatur biografi tersebut. Akan ada dialog yang cukup sengit antara murid (al-Taj al-Subki) dan guru (al-Dzahabi). Mereka yang berdebat, kita yang memetik faidahnya. Sungguh nikmat menyimak diskusi yang tidak seperti ‘diskusi’ jejaring sosial seperti ini.

Bagi Syekh Ahmad Ma`bad, penyebutan Muhyi al-Sunnah (dia yang menghidupkan sunnah) ini sangat perlu mendapat garis bawah. Salah satu alasannya adalah, al-Baghawi (516 H) memang salah satu penggerak tajdid di zamannya. Berdasarkan pembacaan berkualitas Syekh Ahmad Ma`bad atas karya al-Baghawi ‘Syarh al-Sunnah’, beliau menyimpulkan bahwa al-Baghawi punya definisi tentang tajdid (pembaharuan), ialah ‘mengusahakan apapun yang menambah eratnya pegangan terhadap agama’.

Tuntutan Tajdid Kekinian

Syekh Ahmad Ma`bad juga mengiyakan bahwa zaman sebebas sekarang tuntutan tajdid juga berasal dari cendekiawan non-studi agama. Aneh bukan? Lebih aneh lagi, berbagai konsep tajdid yang diajukan sampai menabrak hal-hal paten (tsawâbit) dalam agama. Al-Azhar sebagai otoritas keilmuan muslim sunni tidak tinggal diam. Berbagai konferensi diadakan untuk merespon fenomena ‘tajdid’ semacam ini. Saking pentingnya, Grand Imam sendiri yang memimpin konferensi  tersebut. Misalnya konferensi yang diadakan di Al-Azhar Conference Center, 22 April 2015 lalu. Hasilnya bisa dinikmati dalam kompilasi tulisan Maqâlât fî al-Tajdîd yang diterbitkan lux oleh Dâr al-Quds dan dihargai sangat mahasiswa, 6 pound Mesir.

Kesimpulannya, tajdid (sekali lagi) adalah mengusahakan apapun yang menambah eratnya pegangan terhadap agama...`alâ Bashîrah...atas landasan ilmu yang kokoh.

Kata kedua yang digarisbawahi Syekh Ahmad Ma`bad adalah `alâ Bashîrah/atas landasan ilmu yang kokoh. Selain tantangan konsep tajdid agama yang diajukan cendekiawan non-agama, tantangan selanjutnya datang dari kaum muslim sendiri. Mereka memiliki semangat tinggi untuk melakukan apapun demi tegaknya agama Allah di muka bumi dan demi diterapkannya syariat Islam. Akan sangat positif apabila semangat tersebut dilandasi dengan ilmu yang kokoh. Hanya saja, ketika semangat dilandasi dengan al-Jahl alias ketidaktahuan justru akan menjadi bumerang bagi Islam sendiri.

“Hal yang paling berbahaya bagi Islam atau madzhab apapun adalah, tergabungnya orang yang sebenarnya masih tersifati dengan al-Jahl. Mereka semangat tapi sebenarnya masih belum paham secara baik dan utuh akan ajaran mereka sendiri. Terkadang teman yang bodoh itu lebih berbahaya daripada musuh yang berakal. Meskipun musuh, setidaknya akal yang dia miliki masih menjaga dia berada dalam koridor saling menghormati denganmu”,  begitu komentar Syekh Ahmad Ma`bad.

Beliau melanjutkan, “Sekali lagi kata `alâ Bashîrah ini sangat penting. Karena ada orang yang maunya nyunnah tapi tanpa dasar ilmu yang kokoh. Sehingga suatu saat dia jatuh dalam kesalahan tapi dia tidak sadar. Lebih repot lagi terkadang dia tidak mempan diluruskan. Bahkan ketika kita coba mengingatkan untuk memahami sunnah secara lebih dalam, langsung kita dituduh ‘Kamu nggak nyunnah!’ atau ‘Kamu ini A`dâ al-Sunnah/musuhnya sunnah!’ Padahal, maksud kita mengingatkan adalah supaya nyunnah-nya itu dengan dasar ilmu yang mantap seperti penjelasan al-Baghawi tadi.”

Proyek Besar Nyunnah ala al-Baghawi

Kitab Syarh al-Sunnah karya al-Baghawi

Melalui Syarh al-Sunnah (dicetak 14 jilid), al-Baghawi yang dalam fikih bermadzhab Syafi`i ini ingin membuka dialog dengan masyarakat di zamannya bagaimana sebenarnya nyunnah. Beliau ingin menjelaskan bahwa nyunnah yang sebenarnya adalah memahami sunnah sekaligus mengamalkan sunnah....`alâ Bashîrah! Menurut al-Baghawi dalam mukadimah Syarh al-Sunnah, beliau hidup di zaman ‘agama hanya sekedar simbol dan ilmu hanya sekedar nama’.

Syekh Ahmad Ma`bad menafsirkan agama hanya sekedar simbol dengan: dijalankan bentuk, zahir atau ritualnya saja. Misalnya kalau sudah bicara duit, ‘agamanya’ bisa hilang. Sedangkan ilmu yang disebut hanya tinggal nama maksudnya, “Saya sudah baca kitab ini-dan kitab itu!” Tapi sudahkah benar-benar mengambil manfaat atau manfaati orang banyak dengan studi kitab tersebut? Atau jangan-jangan hanya sekedar khatam baca saja? Padahal al-Baghawi hidup di akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6. (Kalau tulisan ini dibuat di abad ke-15 Hijriyah).

Tantangan beliau cukup berat dalam mengusung megaproyek yang satu ini. Syekh Ahmad Ma`bad mencatat ada dua tantangan yang kesemuanya kembali kepada kondisi zaman:

Pertama, al-Baghawi hidup di masa sanad (rangkaian perawi hadis) semakin panjang. Hal ini tentu menyulitkan para ulama hadis dalam menuliskan kitabnya apabila hendak mencantumkan hadis yang notabene sumber hukum Islam kedua setelah al-Quran. Bahkan mulai banyak yang memikirkan untuk menulis hadis tanpa mencantumkan sanad.

Kedua, para pemimpin muslim lebih memilih untuk mengucurkan dana menyeponsori kampanye perebutan maupun mempertahankan kursi kekuasaan. Karena, kata Syekh Ahmad Ma`bad,“Kalau kamu membaca buku sejarah...”, zaman itu wilayah umat Islam sudah terbagi menjadi negara-negara kecil (meskipun kepala negaranya belum disebut Presiden). Apalagi di zaman itu sampai kepada kekuasaan cara populernya adalah angkat senjata yang jelas butuh didanai besar-besaran. Jelas hal ini sangat berpengaruh terhadap kaum akademisi seperti al-Baghawi. Riset ilmiah selalu butuh pendanaan.

Tapi di sinilah hebatnya al-Baghawi. Beliau tidak kalah oleh keadaan. Sanad yang dianggap sebagai senjata untuk mempertahankan otentisitas ajaran agama Islam tetap beliau pertahankan seberapapun panjangnya. Jadilah Syarh al-Sunnah yang 14 jilid itu salah satu kitab hadis bersanad. Sanad al-Baghawi dari gurunya sampai kepada sumber hadisnya.

Al-Baghawi juga lebih memilih hidup sangat sederhana. Beliau hanya makan roti gandum tanpa lauk selama bertahun-tahun kalaupun ditambah sesuatu hanya sekedar minyak. Biasanya, siapapun yang menjalani pola hidup demikian akan mudah terserang penyakit, tapi beliau dikaruniai umur panjang sekitar 80 tahun.

Murid Qadhi Husain (ulama besar madzhab Syafi`i) ini termasuk yang produktif. Selain Syarh al-Sunnah, ada juga karya lainnya seperti Ma`âlim al-Tanzîl (tafsir),  Mashâbih al-Sunnah (hadis), al-Tahdzîb (fikih Syafii) yang sering dirujuk oleh Imam al-Nawawi (676 H) dan lain-lain. Kitab-kitab beliau Allah izinkan untuk beredar dinikmati oleh umat Islam sampai di abad ke-15 ini. Padahal beliau ulama dari daerah Khurasan, bukan kota seperti seperti Baghdad. Bahkan menurut Tajuddin al-Subki, al-Baghawi tidak pernah ke Baghdad (ibukota kekhilafahan Abbasiyah). Al-Subki mengatakan, “Kalau al-Baghawi masuk Baghdad, biografinya akan lebih panjang dari ini”.

Bisa jadi ada yang berpikiran bahwa manusia hebat seperti al-Baghawi hanya ada di zaman dulu. Oleh karenanya Syekh Ahmad Ma`bad sejenak menyelingi dengan cerita dari zaman ini di Mesir. Bumi para Nabi ini memang menakjubkan. Apa yang dianggap hanya legenda bisa jadi nyata di atas tanahnya. Dulu saya kira anak kecil dibawah 10 tahun sudah hafal al-Quran itu hanya ada di zaman Imam al-Syafi`i, tapi di Mesir bocah-bocah semacam itu banyak di jumpai.

“Dulu...”, lanjut Syekh Ahmad Ma`bad, “Salah satu kakek Syekh Ahmad Toyyib (Grand Imam al-Azhar saat ini) adalah pelajar al-Azhar. Di zaman beliau, al-Azhar menjatah pelajarnya dengan satu lembar roti gandum (`isy) dengan lauk bubur kacang (fûl) dan bawang untuk makan setiap hari. “Tidak!”, jawab kakek Syekh Ahmad Toyyib, “Saya tidak akan mengumpulkan dua lauk dalam satu waktu, jadi saya hanya makan roti dengan bubur kacang saja atau roti dengan bawang saja”.

Sehingga persoalan fasilitas, beasiswa dan sebagainya bukan penentu utama keberhasilan menuntut ilmu. Menurut saya lebih kepada faktor kejiwaan. Hujjatu’l Islâm Imam al-Ghazali (505 H) bercerita, “Dulu kami mencari ilmu tidak karena Allah, tapi ilmu itu sendiri yang menolak untuk dicari kecuali hanya karena Allah!”. Beliau menceritakan masa kecilnya yang hidup di sebuah sekolah yang cukup makmur. Siapa yang tidak ada uang, bisa ikut hadir di kelas-kelas belajar sedikit ilmu ini dan sedikit ilmu itu, sudah dapat beasiswa.

Tantangan Umat Islam Kekinian

Syekh Ahmad Ma`bad melanjutkan nasehat plus peringatan soal tajdid ini dengan cerita di Mesir. Anak-anak Mesir dulu belajar agama (menghafal al-Quran dan calistung) di kuttâb yang dikelola oleh pemerintah Mesir. Saat ini, kuttâb secara resmi dihilangkan karena metode talqin yang digunakan dianggap tidak update. Syekh Ahmad Ma`bad sendiri yang kelahiran tahun 30-an ini adalah alumni terakhir kuttâb resmi yang dikelola oleh kementrian pendidikan Mesir! Waktu itu, Menteri Pendidikan yang baru pulang dari Amerika Serikat-lah yang menghilangkan kuttâb yang berjasa mengajarkan anak-anak dasar agama dan mencetak penghafal al-Quran usia dini.

Menurut Syekh Ahmad Ma`bad, “Sehingga persoalan tajdid (mengusahakan apapun yang menambah eratnya pegangan terhadap agama) dan menanamkan agama dalam diri umat adalah tanggungjawab kita sebagai individu. Tanggung jawab ini hanya akan selesai ketika ruh terpisah dari jasad!”

Ruh Surat al-Mâ`ûn

Saya kaget ketika Syekh Ahmad Ma`bad sampai membahasakan, “Allah itu sudah menyiapkan satu tempat di neraka Jahannam bagi orang-orang yang solat!” Beliau melanjutkan, “Tentu bukan karena solatnya, karena dalam surah tersebut Allah melanjutkan bahwa yang celaka adalah orang yang solat tapi lalai, riya’ dan menahan harta yang seharusnya disedekahkan. Mungkin dia sudah berwudhu, pakai jubah dan lain-lain ketika solat, tapi uang yang ada di kantongnya tidak dia keluarkan dan nafkahkan untuk keluarganya! Inilah namanya solat tapi lalai! Kalau ada yang mengatakan, ‘Berarti anda mengutuk saya ini Syekh?’ Bukan, saya bukan mengutuk anda, tapi memang firman Allah seperti itu! Jadi kita juga ingin supaya harta orang-orang yang solat itu juga dikeluarkan kepada orang yang berhak, ini baru namanya solat yang sebenarnya!”

Epilog

Saya memahami kesan loncat-loncat tema yang mungkin ditangkap oleh pembaca dari tulisan di atas. Namun sebenarnya ada satu kalimat yang bisa kita jadikan kunci untuk memahami apa maksud Syekh Ahmad Ma`bad menyelingi kajian kitab Fathu’l Mughits dengan nasehat soal tajdid dan perenungan kisah hidup Imam al-Baghawi. Menurut saya kalimat kunci itu adalah konsep tajdid ala Imam al-Baghawi itu sendiri...

Nyunnah yang sebenarnya adalah memahami sunnah sekaligus mengamalkan sunnah....`alâ Bashîrah (dengan dasar ilmu yang kokoh)!”

Artinya, tanggungjawab insan muslim saat ini adalah mengamalkan sunnah dengan cara  mentransformasikannya menjadi program-program kehidupan yang praktis/`amaliyah atas dasar pemahaman yang berasal dari bangunan keilmuan yang kokoh dan bersanad.

Masih hidupkan sanad? Dalam sebuah majelis riwayat di Masjid al-Azhar beberapa waktu lalu Syekh Ahmad Ma`bad menegaskan,”Sanad adalah senjata umat Islam, tradisi sanad in syâ’a Allah akan terus berlanjut sampai hari akhir nanti. Sanad di sini bukan sebatas ritual pengijazahan kitab, melainkan ‘sanad maknawi’. Artinya, mempelajari agama melalui guru yang dapat dipertanggungjawabkan keilmuannya”.

Dalam kesempatan lain beliau menyampaikan, “Ada yang mengatakan bahwa sanadnya orang-orang mutaakhirin/yang datang belakangan fungsinya hanya sekedar meraih keberkahan dengan tradisi keilmuan tersebut. Maka kami katakan bahwa: ini tidak menafikan ’kritik sanad’, karena keberkahan yang sesungguhnya tidak akan diraih kecuali dengan perantaraan orang yang diketahui kesalehan dan ketaqwaannya serta kebenaran dalam periwayatannya dengan berbagai cara belajar yang dapat dipertanggungjawabkan”.

WalLâhu a`lamu bi al-Shawâb...

Sunday, June 21, 2015

Pemuda Melawan Chaos

Ini sekedar berandai-andai ya...

Coba tutup mata dan bayangkan satu nama. Nama sebuah kota besar di negara muslim di dunia sekarang ini. Saya sampaikan pertanyaan silahkan anda renungkan, “Apa yang akan anda lakukan ketika kota tersebut digempur habis-habisan oleh tentara Amerika?” Na`ûdzu bilLâh min Dzâlik...

Tulisan kali ini mengajak para pembaca sekalian untuk merefleksi diri. Meskipun judulnya pemuda dan anda di atas 40 tahun tidak mengapa. Siapa tahu ini bisa bermanfaat untuk pemuda yang menjadi tanggungjawab anda. Kalau anda belum ‘pemuda’, tak apalah. Toh sesuai dengan kelaziman, tak lama lagi anda akan menjadi pemuda.

Renungan kali ini dibantu oleh seseorang yang menginspirasi. Imam al-Nawawi (631 H - 676 H), Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi, seorang ulama asal Syiria. Kita pasti kenal dengan beliau melalui karya-karyanya. Kita yang berada jauh dari Syiria, buku-buku beliau seperti hadis arba`in dan Riyâdh al-Shâlihîn pasti tersimpan di rak satu dari beberapa rumah warga muslim di seluruh dunia.

Ketika Imam al-Nawawi berusia 25 tahun, (656 H) sebenarnya ada kejadian horor, runtuhnya Baghdad, gara-gara digempur oleh cucu-cucu Genghis Khan dari Mongolia. Lebih horor lagi, dua tahun sebelumnya (654 H) muncul api di dataran Hijaz. Api yang menerangi punuk-punuk unta di Bashrah (Irak) inilah yang disebut sebagai salah satu tanda kiamat. Demikian yang diceritakan Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa al-Nihâyah.[1] Jadilah umat muslim apalagi yang berada di TKP (Baghdad) berfikir bahwa inilah kiamat akhir zaman.

Ilustrasi Penyerangan Baghdad
Imam al-Nawawi kala itu masih jadi mahasiswa di Syiria. Sebentar, kita kembali ke renungan awal tadi. Apa yang bakal kita lakukan kalau anda ada di situ? Panik? Atau malah gabung ke Baghdad ikut mengusir cucu-cucu Genghis Khan?

Kalau Imam al-Nawawi, tidak keduanya. Kalau dianggap kiamat, Imam al-Nawawi mungkin sadar betul kalau matahari belum terbit dari barat. Kalau ingin ikut gabung ke Baghdad mengusir Mongol? Pilihan yang ini mungkin dijalani, tapi ternyata Imam al-Nawawi tidak demikian. Ia tetap fokus pada perannya ketika itu. Menjadi pelajar di Syiria. Dalam sebuah riwayat, saking rajinnya Imam al-Nawawi, setiap hari beliau rutin ikut 12 mata kuliah. Kalau waktu itu sistemnya adalah talaqqi, rata-rata talaqqi berlangsung selama 2 jam. Okey, ambil saja satu setengah jam. Berarti, ada berapa jam yang Imam al-Nawawi gunakan untuk kuliah?

Ketika menganalisa cerita ini, Syekh al-Habib Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdi yang sampai sekarang mengajar saya fikih madzhab Syafi`i mengatakan, “Lihatlah betapa efektif dan efisien waktunya, Ada keberkahan waktu, tempat dan juga otaknya. Kalau kita, setiap habis pelajaran masih butuh untuk mengulang-ulang supaya tidak lupa. Mungkin beda dengan Imam al-Nawawi”.

Singkat kata, sikap Imam al-Nawawi adalah positif. Beliau sadar betul akan perannya sebagai pelajar. Beliau tetap bersikap profesional sebagai mahasiswa. Hasilnya?

1.      Beliau akhirnya diangkat menjadi rektor Universitas/Dâru’l Hadîts al-Asyrafiyyah di Syiria. Imam al-Nawawi dikenal sebagai manusia langka karena menggabungkan kepakaran dalam hal fikih sekaligus hadis. Di antara karya beliau adalah Syarah Shahih Muslim yang terkenal. Dalam bidang metodologi ilmu hadis, ada kitab al-Irsyâd yang merupakan ringkasan dari Muqaddimah Ibnu al-Shalah (643 H), guru Imam al-Nawawi sendiri. Kitab Muqaddimah inilah buku pokok metodologi ilmu hadis. Kitab al-Irsyâd diringkas lagi menjadi al-Taqrîb yang nantinya akan diberi syarah oleh Jalaluddin al-Suyuthi (911 H). Kitab itu dinamai Tadrîb al-Râwi yang telah diajarkan sampai khatam oleh dua ulama al-Azhar sekaligus selama beberapa tahun, Prof. Dr. Ahmad Ma`bad Abdul Karim dan Prof. Dr. Muhammad Mushthafa Abu Imarah.

2.      Imam al-Nawawi produktif menulis buku. Meskipun umurnya pendek (45 tahun), namun Imam al-Nawawi memiliki banyak karya.

3.      Dalam ilmu fikih, beliau berjasa besar terhadap madzhab yang beliau anut, Syafi`iyyah. Setelah Imam al-Syafi`i wafat (204 H), murid-muridnya mengembangkan ilmu yang mereka dapat dari Sang Imam dan ini berlangsung selama berabad-abad. Akhirnya banyak pendapat yang dianggap sebagai pendapat madzhab Syafi`i meskipun belum tentu berasal dari metodologi Syafi`iyah.

Imam al-Nawawi kemudian menyeleksi pendapat-pendapat tersebut di seluruh kitab karya ulama Syafi`iyyah, mana yang benar-benar menjadi representasi madzhab Syafi`i. Kriterianya adalah, pendapat tersebut sesuai dengan metode madzhab. Hasil penelitian beliau dituangkan dalam dua kitab. Pertama, Kitab Raudhat al-Thâlibîn yang merupakan ringkasan dari kitab (Fath) al-`Azîz karya Imam al-Rafi`i. Kedua, kitab Minhâj al-Thâlibîn wa `Umdatu’l Muftîn yang merupakan ringkasan dari kitab al-Muharrar karya al-Rafi`i.[2]

Proyek Imam al-Nawawi ini sebenarnya menyempurnakan apa yang telah dilakukan oleh al-Rafi`i. Melalui proyek kedua imam ini, segala pendapat yang muncul dari ulama sebelum al-Rafi`i dan al-Nawawi, tidak dapat dikatakan sebagai representasi madzhab Syafi`i kecuali setelah diseleksi oleh keduanya. Dengan kata lain, pendapat-pendapat madzhab Syafi`i dapat diketahui melalui kitab-kitab karya al-Rafi`i dan al-Nawawi.[3]

4.      Kitab hadis arba`in termasuk karya Imam al-Nawawi yang terpenting. Beliau mengumpulkan 40 hadis yang sedikit lafaz kaya makna dan berisi tentang pokok-pokok ajaran agama Islam mulai dari akidah, syariah maupun akhlaq. Semua muslim nampaknya sulit untuk melewatkan kitab ini ketika ingin mengetahui ajaran agamanya. Kitab inilah yang dikaji oleh banyak pejuang Islam di berbagai belahan dunia. Begitu juga dengan Riyâdh al-Shâlihîn, yang dimiliki oleh keluarga-keluarga muslim di seluruh dunia. Betapa harumnya ilmu Imam al-Nawawi.

Keteguhan Imam al-Nawawi berbuah lebat dan manis. Beliau termasuk ulama yang dikenal oleh umat Islam manapun. Waktu itu, beliau sadar betul bahwa Allah menempatkan beliau sebagai seorang pelajar. Maka beliau terima dan bersikap profesional. Tidak sebaliknya, meninggalkan tugas atau malah panik.

Sikap inilah yang seYOGYAnya kita miliki bersama apalagi di zaman fitnah saat ini. Menimjam judul buku Abu al-Hasan al-Nadawi, “Kemunduran dunia karena kemunduran Islam”, maka profesionalisme, kualitas dan dedikasi dalam peran yang seorang muslim jalani saat ini di dunia adalah tuntutan zaman. Karena membangun peradaban tidak hanya membutuhkan prajurit. Ada ahli fikih, hadis, tafsir, bahasa, ekonom, teknokrat, filosof, enterpreneur, astronom, desainer dan profesional lainnya yang dibutuhkan.

Oh ya, apa kabar Mongol? Singkat cerita beberapa tahun setelah menggempur Baghdad, keturunan mereka malah masuk Islam! Hal ini disebabkan karena mereka melihat profesionalisme, kualitas dan dedikasi yang ada dalam diri setiap muslim. Hal ini mereka simpulkan setelah menjadikan beberapa orang muslim sebagai penasehat kerajaan dan melihat kualitas mereka.

Sebagai saksi bisu masuknya orang Mongol ke agama Islam adalah Taj Mahal karya Shah Jehan, salah seorang raja dari kerajaan Mughal (dalam bahasa Arab Mongol disebut Mughal).


Uniknya makam Imam al-Nawawi: dari posisi jantungnya tumbuh pohon besar


Makam di Syiria itu dihancurkan oleh orang tidak beradab


Kajian dan perbedaan pendapat tentang makam memang ada, tapi apakah seperti ini terpuji?
Coba kalau tempat peristirahatan sanak familinya yang dihancurkan, tersinggungkah?


[1] Ibnu Katsir al-Dimasyqi, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, ed. Abdullah al-Turki, vol. XVII, Dâr Hajr, Giza, Mesir, cet. I, 1419 H/1998 M, hal. 328
[2] Akram Yusuf al-Qawasimi, al-Madkhal ilâ Madzhabi’l Imâm  al-Syâfi`i, Dâr al-Nafâ’is, Amman, Yordania, cet. II, 1434 H/2013 M, hal. 355.
[3] Ahmad bin `Alawi bin Abdurrahman al-Saqqaf, al-Fawâ’id al-Makkiyyah, Dâru’l Fârûq, Giza, Mesir, cet. I, 2011 M, hal. 120

Sunday, May 10, 2015

Perangkat Ilmu (3): Buku yang Valid

Dalam perjalanan intelektual manusia, para ilmuwan/ulama tidak sedikit yang merekam buah pikirannya dalam berlembar-lembar tulisan. Kumpulan dari lembaran-lembaran itu jadilah buku. Oleh karenanya, tidak salah ungkapan buku adalah sumber ilmu.
Perpustakaan al-Azhar, Mesir (14 lantai)
Para ulama memotivasi para pelajar untuk punya banyak buku. Baik dengan cara beli atau meminjam. Imam Syafi`i (204 H) ketika di Baghdad berguru dengan Muhammad bin Hasan al-Syaibani (189 H), ulama besar murid Imam Abu Hanifah (150 H) yang juga hakim agung kepercayaan Khalifah Harun al-Rasyid. Dalam proses belajar tersebut Imam Syafi`i berinvestasi 60 dinar hanya untuk membeli buku-buku Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Buku-buku itupun ditelaah sampai tuntas.

Sebelumnya ketika hendak berguru dengan Imam Malik (179 H) di Madinah, Imam Syafi`i lebih dahulu punya dan hafal al-Muwaththa’-nya Imam Malik.

Seberapa Berhargakah Buku bagi Kita?

Di sela-sela kajian kitab ilmu hadis Fathu’l Mughîts karya Imam al-Sakhawi (902 H), guru besar ulama hadis al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ma`bad Abdul Karim menceritakan perihal Ibnu al-Mulaqqin (804 H).

“Beliau ini punya perpustakaan besar di Sayyidah Zainab[1] itu lho. Kalau sekarang ya sudah nggak ada, adanya penjual kentang, sayur...(Grrrrr... hadirin tertawa). Didalamnya banyak buku-buku langka yang mungkin belum pernah dilihat oleh insun wa laa jinnun/manusia maupun jin (Grrrr....). Ternyata perpustakaan itu kemudian terbakar. Ibnu al-Mulaqqin sedih bukan main sampai pikun kemudian meninggal. Lihat, itu yang menyebabkan beliau galau sampai meninggal!”

“Beda dengan kita, tetap tenang yang penting dapur masih mengepul, masih ada sandwich, masih ada ini itu...”(Grrr......)

Kalau ditanya apa yang bisa dibanggakan dari peradaban Islam di masa jayanya? Rasanya tidak ada jawaban yang lebih tepat dibanding bangunan keilmuan. Kalau disebut barngunan-bangunan bersejarah, memang bernilai tinggi, tapi bangunan di zaman ini rasanya jauh lebih indah dan nyaman untuk ditinggali. Belum lagi, bangunan itu tidak awet, beda dengan pemikiran yang sangat biasa untuk selalu diwariskan dan dikembangkan.

Imam al-Thabari (310 H) punya semacam lembaga riset yang anggotanya adalah murid-murid beliau sendiri. Merekalah yang menuliskan hasil-hasil ijtihad Imam al-Thabari. “Apa kalian semangat kalau kita menulis sejarah dari zaman Nabi Adam sampai zaman kita?”, tanya Imam al-Thabari. “Berapa lembar?” “Ya sekitar 30.000-an”, jawab sang imam. “Wah umur kita habis sebelum kitabnya selesai!”, komentar murid-murid beliau. “Innâ lilLâh, yang namanya tekad sudah mati”, begitu komentar Imam al-Thabari. Akhirnya buku sejarah itu tetap ditulis walau hanya sekitar 3000 lembar. Di zaman sekarang, buku itu dicetak kembali oleh salah satu penerbit Mesir Dâru’l Ma`ârif menjadi 11 jilid.

Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh Imam al-Thabari ketika beliau tawarkan untuk mendikte sebuah kitab tafsir. Jawaban yang sama keluar dari murid-murid beliau.[2] Kitab tafsir Jâmi`u’l Bayân `an Ta’wîli Âyi’l Qur’ân yang dianggap sebagai kitab tafsir al-Quran lengkap pertama yang sampai kepada kita ini, diteliti oleh Syekh Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki dan dicetak menjadi 26 jilid termasuk 2 jilid daftar isi.

Setiap tahun, pemerintah Mesir rutin mengadakan pameran buku. Konon, ini adalah yang terbesar kedua di dunia dari segi negara peserta dan terbesar di dunia dari segi jumlah buku. Hal yang paling membanggakan, ternyata buku-buku yang ada di sana, terbanyak adalah kitab-kitab karya ulama dari zaman dahulu sampai yang terbaru. Momen ini banyak dimanfaatkan oleh para pelajar sampai para ulama untuk melengkapi perpustakaan pribadinya.

Demikianlah, umat Islam adalah umat yang suka membaca. Siapapun kita jadilah yang suka membaca. Di Mesir, kami pernah menjumpai seorang polisi lalu lintas muda berseragam hitam masuk ke toko buku untuk beli kitab tafsir!

Program Membaca Buku

Mâ Ana bi Qâri’? Apa yang harus saya baca?

Idealnya seorang muslim meneruskan tradisi keilmuan membaca dengan mengusahakan perpustakaan di rumahnya. Selain buku yang terkait dengan hal yang digeluti, sebagai seorang muslim minimal ada empat tema buku di rumahnya: aqidah, fikih, akhlaq dan sejarah.

Membeli buku nampaknya tidak sulit. Membiasakan membaca buku itulah yang sulit kalau tidak dipaksa. Prof. Dr. Ahmad Ma`bad pernah memberikan tips kepada para mahasiswa terkait membaca buku. “Setiap hari sebelum tidur, baca 10 halaman! Nanti setiap bulan bisa khatam satu jilid buku!”. Beliau sendiri pernah menghabiskan waktu dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam hanya untuk membaca judul-judul manuskrip di perpustakaan nasional Mesir! Kata Syekh Salman Audah dari Arab Saudi yang pernah menjadi muridnya, Syekh Ahmad Ma`bad ini kalau urusan baca buku di perpustakaan, beliau mulai sejak jam buka sampai pulang bersama penjaga perpustakaan ketika ditutup malam harinya!

Konsisten dalam program membaca adalah kuncinya. Seorang ulama hadis Mesir, Prof. Dr. Rif`at Fauzi Abdul Muthalib yang pernah meneliti kitab al-Umm karya Imam al-Syafi`i setiap pagi menyediakan waktu sekitar 10 menit (!) hanya untuk membaca kitab-kitab hadis. Dari keberkahan konsistensi inilah beliau mengkhatamkan banyak kitab hadis yang bermanfaat untuk pengembangan keilmuan beliau.

Ternyata sifat rajin baca buku tidak pilih keyakinan. Ia hanya mau hinggap di hati siapa saja yang memeliharanya meskipun bukan muslim. Gautier H. A. Juynboll, seorang orientalis yang fokus di bidang hadis ternyata bukan orang yang asal bicara ketika melontarkan banyak pemikiran seputar sanad. Setiap hari beliau menghabiskan waktu dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam hanya untuk membaca kitab hadis! Bagaimana dengan kita yang sudah mengikrarkan diri sebagai pembela Islam?!

Selektif Memilih Naskah Buku

Logikanya, ketika buku adalah sumber ilmu, kalau bukunya salah/tidak valid, maka jangan harap ilmunya valid. Sebelum teori/kaidah apapun dipelajari, maka terlebih dahulu mengecek validitas teks teori/kaidah tersebut.

Dulu, sebelum ditemukan mesin cetak, seorang pelajar yang ingin punya buku tertentu belanja setumpuk kertas untuk disetorkan kepada nussâkh (penyalin) yang diminta menyalin buku. Bayangkan saja misalnya butuh Fathu’l Bâri (syarah/penjelasan Shahih al-Bukhari) karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Cetakan zaman sekarang saja ada 14 jilid tebal-tebal. Bagaiaman kalau minta buku biografi tokoh Siyaru’l A`lâm al-Nubalâ’ karya Imam al-Dzahabi yang tebalnya 30 jilid?

Dari salin menyalin itulah muncul perbedaan naskah manuskrip sebuah buku. Dari sinilah muncul ilmu filologi (tahkik). Untuk memunculkan dan mencetak ulang kitab turâts di zaman ini, tidak hanya sekedar menulis ulang manuskrip tersebut. Ada beberapa hal yang harus dilakukan:

1.      Mengumpulkan berbagai manuskrip buku baik yang ditulis langsung oleh penulisnya atau ditulis oleh murid-muridnya.

2.      Memilih satu naskah (biasanya yang tertua atau terlengkap karena terkadang sebagian halaman hilang atau rusak) sebagai acuan kemudian dicari perbedaan dengan naskah lainnya. Foto/scan sampel manuskrip akan ditampilkan.

3.      Teknis penulisannya, di catatan kaki akan ditulis, misalnya: dalam naskah (A/sebelumnya dijelaskan nama perpustakaan), kata yang tertulis adalah bla bla bla.

4.      Seorang peneliti biasanya juga mencantumkan penjelasan dari segala hal yang terdapat dalam naskah tersebut, misalnya ketika penulisnya mencantumkan pendapat ulama, peneliti akan melampirkan biografi singkat dan merujuk ke buku asli ulama tersebut untuk memastikan keakuratan nukilan dari penulisnya.

Setelah mengetahui hal-hal di atas mari kita merenungi proses yang telah kita lakukan untuk mengambil ilmu atau pengetahuan apapun. Apakah kita selama ini hanya mencukupkan nukilan-nukilan liar dari dunia maya?

Rumus dari Para Ulama

Soal akurasi informasi atau pengetahuan, ada sebuah kata-kata yang cukup terkenal di kalangan para ulama.
إنْ كُنْتَ نَاقِلًا فَالصِّحَّةُ أَوْ مُدَّعِيًا فَالدَّلِيْلُ
Artinya: “Kalau engkau menukil, akuratkan! Kalau engkau mengklaim sesuatu, argumentatiflah!”

|Tulisan ini saya persembahkan untuk ayah dan ibu saya yang telah meletakkan dasar perpustakaan dan lembaga riset "Al-Azhar" di Indonesia nanti, semoga Allah mewujudkan...|
Siyar A`lam al-Nubala` karya Imam al-Dzahabi | Hadiah dari ayah ibu 1425 pound Mesir


[1] Nama sebuah wilayah di Kairo
[2] Kisah ini direkam oleh Imam al-Dzahabi dalam Siyar A`lam al-Nubalâ’, ed. Akram al-Busyi & Syu`aib al-Arnauth, vol. XIV, Mu’assasah al-Risâlah, Beirut, Libanon, cet. II, 1435 H/2014 M, hal. 274

Sunday, January 18, 2015

Konten Pernyataan Badan Ulama Senior al-Azhar Terkait Tragedi “Paris” Beberapa Waktu Lalu


1. Beberapa media barat tidak henti-hentinya melakukan serangan yang provokatif terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad ShallalLâhu `alaihi wa Sallama. Seperti yang pernah terjadi di Denmark maupun yang baru-baru ini dilakukan oleh media cetak Charlie Hebdo di Paris.
2. Demonstrasi di Paris yang dilakukan sebagai respon terhadap tragedi “Charlie Hebdo” dihadiri oleh beberapa teroris besar seperti Benjamin Netanyahu. Di dalam arak-arakan tersebut juga terdapat orang-orang berpakaian seperti tentara salib. Ini menunjukkan bahwa Barat masih saja membakar api permusuhan terhadap kaum muslimin. Mereka tidak konsisten dengan prinsip persaudaraan dan perdamaian yang juga mereka yakini.
3. Oleh karenanya al-Azhar menyeru kepada Barat untuk konsisten dengan kebebasan pers yang bertanggungjawab (tanpa penghinaan terhadap siapapun), persaudaraan dan perdamaian antar umat manusia. Juga menyeru untuk menghilangkan sikap diskriminatif terhadap umat Islam tak bersalah yang hidup di negara-negara Barat dalam kehidupan sehari-hari exp: pendidikan, kompensasi kerja, hak politik dan lain-lain.
4. Umat Islam pun punya prinsip persaudaraan antar umat manusia, persamaan, dan kebebasan tanpa pandang agama, warna kulit, dan lain-lain. Kita menginginkan kehidupan yang damai dan menolak segala bentuk terorisme.
5. Al-Azhar juga menyeru kepada seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia bahwa tindakan bodoh seperti menghina agama dan rasul tidak perlu dibalas dengan tindakan sejenis. Al-Quran memerintahkan kita untuk merespon dengan cara yang lebih elegan dan bijaksana. Umat Islam sendirinya adalah teladan dan risalah bagi dunia.
https://www.facebook.com/OfficialAzharEg/photos/a.981948061819287.1073741828.978594902154603/1013866748627418/?type=1&fref=nf

Wednesday, January 14, 2015

Piranti Ilmu (2) `Aqlun Râjih

Dalam sebuah bait, Imam Haramain al-Juwaini (478 M) berkata[1]:

أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتّةٍ # سَأُنْبِئْكَ عَنْ تَفْصِيْلهَا بِبَيَانِ[2]
ذَكَاءٌ وَ حِرْصٌ وَ اجْتِهَادٌ وَ بُلْغَةٌ # وَ إِرْشَادُ أُسْتَاذٍ وَ طُوْلُ زَمَانِ
“Wahai Saudaraku kamu tidak akan pernah mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara # Akan saya sampaikan rinciannya kepadamu
(1)Kecerdasan,(2)Ambisi,(3)Usaha(4)Totalitas # (5)Bimbingan guru dan (6)Lamanya waktu.”

Kecerdasan adalah salah satu bekal utama seorang penuntut ilmu. Seorang slow learner akan kesulitan dalam mengikuti proses belajar. Kecerdasan letaknya di akal. Bukan sembarang akal, melainkan akal yang râjih. Ialah akal yang tenang. Sehingga selalu menjalankan fungisnya untuk berpikir mencari kebenaran. Manfaatnya, ia akan terhindar dari kesalahan. Selalu punya pertimbangan sebelum bertindak/berbicara.



Kata al-`Aqlu sendiri dalam bahasa Arab artinya al-Man`u (mencegah), akal-lah yang menjaga si empunya dari berbuat jelek.[3]

Ibrahim al-Baijuri[4] (1277 H) mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat mengenai dimana letak akal. Ada yang mengatakan, akal ada di kepala. Sedangkan pendapat yang dianggap lebih sahih menyebutkan bahwa akal ada di dalam al-Qalb (hati) kemudian ia memiliki sambungan ke otak. Makanya ada sebuah perkataan berbunyi, “Akal ibarat pohon yang tumbuh dari dalam hati, cabang-cabangnya ada di kepala.”[5]

Usaha keras nampaknya bukan satu-satunya faktor kesuksesan mencapai target menuntut imu. Para ulama adalah orang-orang yang brilian. Amirul Mukminin fil Hadits Imam al-Bukhari (256 H) sudah terkenal akan kecerdasannya sejak muda. Sejak usia 11 tahun beliau sudah bisa menyampaikan koreksi terhadap gurunya dalam masalah periwayatan hadis.[6] Imam al-Bukhari juga bisa diajak diskusi soal nama-nama perawi sampai `ilal[7] hadits sambil berjalan-jalan santai. Itupun dilakukan seperti membaca Qul HuwalLâhu Ahad.[8] Kisah yang cukup masyhur tentang beliau adalah ketika diuji dengan pertanyaan mengenai 100 hadis yang diacak sanad dan matannya dan dibagikan kepada 10 orang untuk ditanyakan kepada Imam al-Bukhari. Ternyata Imam al-Bukhari mampu mengembalikan semua sanad ke matannya. Tidak hanya itu, sebelumnya beliau juga mampu mengulang hadis yang matan dan sanadnya diacak![9]

Syekh Ahmad Syakir[10] (1377 H) dalam kata pengantarnya terhadap Musnad Imam Ahmad bin Hanbal yang beliau teliti mengatakan bahwa karena penertiban hadis di Musnad Ahmad berdasarkan sahabat yang meriwayatkan, sulit untuk merujuk hadis ke sana. Orang dulu ketika ingin mengetahui apakah sebuah hadis ada di Musnad Ahmad kebanyakan hanya berdasar keterangan dari guru yang pernah menemukan hadis tersebut di Musnad. Kecuali beberapa orang yang hafal semua hadis di Musnad Ahmad. Setahu beliau ada tiga orang yang  hafal Musnad Ahmad di ujung lidahnya, “Ibnu Taimiyyah dan kedua muridnya, Ibnu Katsir dan Ibnu’l Qayyim.”[11]
Syekh Ahmad Muhammad Syakir
Sambil tersenyum, Prof. Dr. Ahmad Ma`bad Abdul Karim[12], bercerita, “Dulu waktu saya mengajar di Arab Saudi pernah menantang murid-murid saya, ada nggak yang hafal satu hadis saja dari Musnad Ahmad di ujung lidahnya hehe...”

Selain kekuatan hafalan yang terknela dimiliki orang Arab, ternyata ulama juga kuat dan cepat dalam menganalisa sekaligus memecahkan persoalan. Imam al-Sanusi (895 H) ketika membantah orang-orang yang mencukupkan belajar akidah sebatas taklid saja dengan alasan para sahabat juga tidak pernah belajar dengan teori-teori akidah yang rumit mengatakan bahwa mereka salah besar. Karena mereka menganggap bahwa kualitas akal kita sama dengan akal sahabat yang masih sangat murni dan jernih, berbeda dengan kita sehingga butuh teori-teori semacam itu untuk memahami akidah. Beliau memberikan contoh. Ada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya mengadu kepada Imam Ali bin Abu Thalib RadhiyalLâhu `anhu wa Ardhâhu karena hanya mendapat bagian waris satu dirham padahal peninggalan suaminya 600 dirham.[13] Spontan Imam Ali menjawab bahwa suaminya pasti punya ahli waris ini dan itu. Perempuan itu menjawab iya. “Ya sudah memang itu jatah warisan buatmu, kamu tidak dizhalimi kok”.[14]

Bagaimana caranya menjaga akal? Atau bagaimana meningkatkan kecerdasan. Menjaga pola hidup adalah usaha realistis yang bisa dilakukan. Ibnu al-Jauzi (597 H) memberikan tips soal makanan yang dapat meningkatkan kemampuan akal seperti delima manis, susu, kismis, madu dan lain-lain.[15]

Sebenarnya ada yang lebih penting dari sekedar menjaga pola hidup. Sebuah bait syair yang dinisbatkan kepada Imam al-Syafi`i[16] (204 H) dapat menjelaskan semuanya:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعِ سُوْءَ حِفْظِي # فَأَرْشَدَنِيْ إِلى تَرْكِ المَعَاصِى
فَأَخْبَرَنِيْ فَإِنَّ العِلْمَ نُوْرٌ # فَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى للعَاصِى
Artinya:
Aku mengadu kepada Waki` (guruku) tentang buruknya hafalanku # Ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiat
Ia pun mengabarkanku kalau ilmu itu cahaya # dan Cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat

Bergabung dalam sebuah lingkungan ilmiah dan mengikuti sistem belajar adalah kesimpulan cara terbaik menjaga akal dan meningkatkan kecerdasannya. Bangunan keilmuan Islam tidak meninggalkan hal-hal semacam ini. Dimulai dari mengajarkan adab menuntut ilmu sampai kepada sistem pembelajarannya. Ulama muta’akhirin dikenal mengembangkan sistem matan-syarah-hasyiyah yang sudah teruji. Dimulai dengan menghafal bait-bait matan pendek disiplin ilmu tertentu sampai tuntas. Setelah menguasai seluruh persoalan, baru beranjak ke kitab-kitab syarah. Pada level expert, baru masuk ke hasyiyah (catatan pinggir). Syekh Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdi menyampaikan bahwa hasyiyah diperuntukkan bagi pelajar level expert.

Kelebihan lain dari bergabung dengan sebuah madrasah keilmuan adalah meminimalisir masuknya pemikiran-pemikiran yang menyimpang yang makin membabi buta di zaman ini. Karena madrasah keilmuan memiliki guru yang siap membimbing, murid yang siap dibentuk, literatur yang luas, manhaj yang kokoh serta lingkungan keilmuan yang mendukung.

Sebagai kalam akhir dari part ini, ada sebuah nasehat dari Prof. Dr. Ahmad Ma`bad dalam talaqqi kitab ilmu hadis Fathu’l Mughîts karya Imam al-Sakhawi (902 H), “Bagian tubuh manusia yang paling harus dijaga adalah akalnya, termasuk dijaga dari pemikiran penyimpang yang bertentangan dengan pemahaman para ulama”.


Syekh Ahmad Ma`bad Abdul Karim


[1] Lihat: Ahmad bin `Alawi al-Saqqaf, al-Fawâ’id al-Makkiyyah, Dâru’l Fârûq, Giza, Mesir, cet. I, 2011 M, hal. 101. Lihat rujukan asli (dengan perbedaan beberapa kalimat karena perbedaan naskah): Tajuddin al-Subki, al-Thabaqât al-Syâfi`iyyah al-Kubrâ, vo. V, ed. Abdul Fattah Mahmud Hilwa & Mahmud Muhammad Thanahi, Hajar li al-Thibâ`ah, Giza, Mesir, cet. II, 1413 H/1992 M, hal. 208
[2] Bait ini banyak yang menisbatkan kepada Imam Syafi`i (204 H), Dr. Usamah Sayyid al-Azhari, ulama hadis al-Azhar, dalam sebuah pembekalan di asrama al-Azhar yang mengingatkan hal tersebut dan menganjurkan untuk merujuk ke al-Thabaqât al-Syâfi`iyyah.
[3] Ahmad bin `Alawi al-Saqqaf. Op. Cit., hal. 84
[4] Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Syafi`i al-Azhari adalah Grand Syekh al-Azhar ke-19. Beliau sangat produktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu.
[5] Ibrahim al-Baijuri, Hâsyiyah Fathi’l Qarîb, vol. I, Mathba`ah Mushthafa al-Bâbi al-Halabi wa Aulâduhu, Mesir, 1343 H, hal. 71
[6] Al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Madînat al-Salâm, ed. Basyar `Awwadh Ma`ruf, vol. II, Dâru’l Gharb al-Islâmi, Beirut. Lebanon, cet. I, 1422 H/2001 M, hal. 324
[7] Kecacatan tersembunyi dalam hadis yang hanya bisa dipahami oleh ulama hadis yang handal
[8] Muhyiddin al-Nawawi, Mâ Tamassu ilaihi Hâjatu’l Qâri li Shahîhi’l Bukhâri, ed. Ali Hasan Ali Abdul Hamid, Dâru’l Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut, Libanon, t.t., hal. 27
[9] Al-Khathib al-Baghdadi, Op. Cit., hal. 340
[10] Ulama hadis al-Azhar, seorang filolog besar, salah satu karyanya adalah tahkik Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (sampai 16 jilid).
[11] Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, vol. I, ed. Ahmad Muhammad Syakir, Dâru’l Ma`ârif, Mesir, 1373 H/1954 M, hal. 4.
[12] Ulama hadis senior al-Azhar yang juga anggota dewan ulama senior. Banyak yang menyebut bahwa beliau adalah pakar hadis nomer satu yang hidup di bumi saat ini.
[13] Penulis belum menemukan rujukan asli dari kisah ini. Akhirnya penulis nukilkan dari Imam al-Sanusi. WalLâhu a`lam bi al-Shawâb.
[14] Abu Abdullah al-Sanusi, Syarh al-Sanûsiyyah al-Kubrâ, ed. Abdul Fattah Barakah, Dâru’l Bashâ’ir, Kairo, Mesir, cet. I, 1434 H/2013 M, hal. 52
[15] Ibnu al-Jauzi, al-Hats `alâ Hifzhi’l `Ilm, ed. Muhammad Shalih Ibrahim Farahat, Dâru’l Fârûq, Manshurah, Mesir, cet. I, 1431 H/2010 M, hal. 11
[16] Beliau diakui kekuatan hafalannya. Bahkan dikatakan bahwa ketika membaca buku beliau menutup sisi halaman yang lain karena beliau mampu menghafal dengan sekali lihat tulisan.