أهلا و سهلا

Selamat Datang | Dua puluh tahun aku menyelami dunia, itu sangat membantuku dalam memahami apa yang Tuhanku inginkan dariku untuk kukerjakan (al-Syafi`i) | Sama-sama berbuat, hanya yang tanpa ilmu lebih banyak MERUSAK-nya daripada membangun-nya (Hasan Bashri)| Mohon masukan...
Showing posts with label Tokoh Dunia. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Dunia. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Sibawaih; Aroma Apel Terharum

Siapakah ulama nahwu terhebat yang pernah ada? Ibn Khillikan dalam Wafayâtu’l A`yan-nya menyebut Sibawaih. Amr bin Utsman bin Qanbar al-Haritsi Abu Bisyr. Sibawaih adalah gelar dalam bahasa Persia, apabila diarabkan artinya menjadi ‘aroma apel’. Sebagian kalangan suka memanggilnya Sibuyah, mereka kurang suka menyebut waih. Menurut orang non-Arab, artinya kurang baik. Ulama hadis beralasan, karena waih itu salah satu nama setan.

Sibawaih yang lahir di Syiraz, salah satu kota di Persia, lama berguru kepada Khalil bin Ahmad (100-170 H) di Bashrah, bahkan ia disebut sebagai muridnya yang paling unggul. Konon, Sibawaih itu gantengnya minta ampun. Gurunya sendiri pun sampai membuat tabir ketika mengajar Sibawaih.

Salah satu episode terkenal dalam hidup sibawaih adalah debatnya dengan ulama Kufah al-Kisa’i (119-189 H ), yang ketika itu menjadi guru dari putra Khalifah Harun al-Rasyid, al-Amin, tentang kalam Arab yang lebih fasih. Sayang waktu itu dialog berakhir dengan kurang sehat meskipun menghadirkan orang Arab asli. Dia dipaksa untuk mengakui bahwa al-Kisa’i yang benar. Sibawaih tahu ia dicurangi, maka ia pergi ke luar kota.

Masterpiece Sibawaih adalah al-Kitab, yang disebut sebagai buku nahwu yang tidak ada tandingannya, dari buku sebelum maupun setelahnya. Ia yang menjabarkan semua masalah nahwu di al-Kitab. Para ulama yang datang setelahnya, tidak ada satupun yang bisa menemukan persoalan nahwu apa yang belum dibahas Sibawaih dalam al-Kitab.

Dalam sebuah majelis, Prof. Dr. Fathi Hijazi, pakar balaghah al-Azhar, pernah menceritakan bahwa, “Dengan usia yang sangat pendek saja, kami (para ulama bahasa Arab di al-Azhar) sudah dibuat memeras otak dan tenaga, bagaimana kalau ia berumur panjang?”. Benar, Sibawaih meninggal dalam usia muda, 34 tahun. Namun begitulah, Allah yang menentukan peran hamba di dunia, dan menaikkan posisinya.

Meskipun terdapat perbedaan tentang kapan dan dimana Sibawaih meninggal, namun sumber yang bisa dipercaya menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun 170 H.

Sumber:
1. al-A`lam (5/81)
2. Wafayatu'l A`yan (3/463 no. 504)

Lokasi makam Imam Sibawaih
(karena tidak ada foto beliau, makam pun jadi)

Sunday, January 12, 2014

El-Sharaawy; The Chosen One

Bulan-bulan pertama di Mesir, saya penasaran dengan gambar orang tua berpeci putih khas Mesir (mirip topi kelasi), fotonya dipampang di mana-mana. “Itu namanya Syekh Sya`rawi, beliau adalah dai yang selalu dinanti pengajian tafsirnya. Beliau pernah menjadi Menteri Wakaf (semacam Menteri Agama di Indonesia). Meskipun pernah menjadi orang pemerintah, tapi beliau sangat merakyat dan rendah hati, makanya rakyat Mesir cinta Syekh Sya`rawi.” Begitu penjelasan seorang senior. Selama beberapa waktu terkadang memori akan (gambar) Syekh Sya`rawi kembali terngiang. “Oh ya, ada salah satu koleksi buku ayah saya berjudul ‘Anda Bertanya Islam Menjawab’, karya Muhammad Mutawally al-Sya`rawy, ternyata beliau orangnya”. Ingat sudah saya.

Entah kenapa sejak lama saya ingin menulis tentang Syekh Sya`rawi. Puncaknya ketika mendengarkan rekaman sebuah talkshow di salah satu tv Mesir membicarakan Syekh Sya`rawi. Waktu itu, ditemani seorang host, pematerinya adalah Syekh Usamah Sayyid al-Azhari yang terkenal ensiklopedis ketika membahas sebuah tema disampaikan dengan fasihnya bahasa dihiasi dengan suara beliau yang khas. Klop sudah.

Padahal saya belum pernah baca tafsir atau karya-karya beliau yang terpampang di toko-toko pinggir jalan, belum juga mendengarkan rekaman video beliau. Tapi secara bertahap, cerita tentang Syekh Sya`rawi selalu datang. Anehnya, tidak ada cerita tentang beliau yang tidak mengena! Tak apalah, maka kali ini saya akan berbagi cerita tentang Syekh Sya`rawi. Kalau sekedar biografi, browsing di internet sudah mencukupi.

El-Sharaawy Si Anak Petani

Ayahnya adalah seorang petani Mesir yang sederhana. Sya`rawi kecil yang dipanggil Amin pun seperti anak-anak sebayanya. Pergi ke sekolah, kemudian ikut membantu berladang. Cita-cita Amin kecil pun sebatas ‘meneruskan perjuangan ayahnya’ alias jadi petani. Tapi, Amin punya bakat sastra. Maklum, sejak kecil ia sudah mengikuti sayembara ayahnya, menghafal syair-syair Ahmad Syauqi, Si Raja Syair asal Mesir. Setiap satu syair, berhadiah beberapa keping qirsy (piaster, seperti sen, pecahan dari pound). Lumayan, tambahan uang jajan. Ketika masuk SMA al-Azhar di Zaqaziq, ia pun terpilih menjadi Ketua OSIS dan Ketua Perkumpulan Sastrawan Zaqaziq.

Amin sudah lulus SMA, waktunya jadi mahasiswa. Di dalam pikiran ayahnya sang petani sederhana itu, anak Mesir kalau sudah hafal al-Quran dan lulus sekolah ya masuk Universitas al-Azhar, untuk jadi orang benar. Amin ternyata masih bersikukuh dengan impian lamanya melanjutkan perjuangan ayahnya di ladang. Bahkan malam tes masuk al-Azhar, Amin mengoleskan merica ke matanya untuk mengelabui ayahnya. Dia pura-pura sakit. Apes, ketahuan.

Ketika tes pun dia tak kehilangan akal. Pengujinya dipermainkan dengan menjawab asal-asalan ketika diminta melanjutkan ayat al-Quran. Tapi yah, begitulah, mungkin di sinilah letak The Choosen One-nya. Pengujinya tahu kalau anak ini sebenarnya hafal al-Quran, tapi sengaja disalah-salahkan. Akhirnya, “Lancang kau bocah! Sudah sana masuk al-Azhar!” Amin diterima masuk al-Azhar, fakultas bahasa Arab.

Ayahnya datang ke Kairo untuk memastikan keadaan Amin, siapkah ia mengikuti pelajaran. Ternyata ia belum punya buku diktat (muqarrar). Berangkatlah mereka berdua ke toko buku. Lagi-lagi Amin berulah. Kitab-kitab yang berjilid-jilid dengan berbagai tema mulai dari bahasa, ilmu al-Quran, tafsir, dan lain-lain ditunjuknya asal-asalan. “Kali ini harus berhasil!” Begitu pikiran Amin. Ia berharap agar ayahnya menyerah ketika tahu bahwa ‘diktat’ al-Azhar besar-besar dan pasti mahal-mahal. “Berapa?” “Satu pound Pak.” Jawab pemilik toko. “Silahkan Pak, ini saya bayar satu pound.” Tanpa menawar, ayahnya langsung membayar semua kitab yang ditunjuk Amin. Padahal satu pound Mesir (Le) zaman segitu, mungkin sama nilainya dengan 800 pound zaman sekarang. 800 pound itu kalau dirupiahkan 1,5 juta untuk kurs saat ini.

Amin ikut ke stasiun kereta api melepas ayahnya pulang ke Mit Ghamr, kampung halamannya. Menjelang keberangkatan kereta, ayahnya berkata, “Nak, ayah tahu kok kalau kitab-kitab itu sebenarnya bukan diktatmu, tapi gak apa-apa. Semoga kitab-kitab itu membuat kamu tambah semangat belajar, semoga Allah membukakan pintu-pintu ilmu kepadamu melalui kitab-kitab itu”.

Muhammad Mutawalli al-Sya`rawi

Amin yang bandel sekarang sudah jadi Muhammad Mutawalli al-Sya`rawy yang berusia 60 tahun. Saya merasa penting memulai dari titik ini. Di usia ini Syekh Sya`rawy baru muncul di depan rakyat Mesir mengajarkan tafsir al-Quran. Mesir tak pernah langka ulama. Tapi Syekh Sya`rawy beda. Meminjam istilahnya Syekh Usamah Sayyid al-Azhari, Syekh Sya`rawi berhasil membangun madrasah rakyat dengan mutiara-mutiara tafsir al-Qurannya. Bukan sembarang menafsir, Syekh Sya`rawi punya modal bahasa Arab dari studinya di al-Azhar, juga dari ‘bakat’ yang Allah berikan kepadanya. Klop dengan al-Quran yang turun dengan bahasa Arab, maka untuk dapat menggapai makna-maknanya, kunci pertama adalah bahasa Arab dengan segala cabangnya. Seterusnya baru berbagai ilmu penunjang lainnya.

Kenapa baru muncul ketika sudah 60 tahun? Kemana saja sebelumnya? Ketahuilah bahwa yang memunculkan dan meredupkan orang adalah Allah. Guru-guru saya di al-Azhar pun sering menasehatkan untuk tidak keburu tampil, biarkan Allah yang mengatur dan menempatkan kita di posisi yang Ia Ridhai. Syekh Sya`rawi menempuh jalur yang sama dengan kebanyakan pemuda Mesir lainnya. Lulus al-Azhar, jadi guru SMA al-Azhar di berbagai kota. Ada yang menarik di sini. Saya pernah mendengar bahwa  yang pernah menjadi salah satu murid SMA-nya adalah Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Ketika itu, al-Qaradhawi muda juga sangat unggul di bidang bahasa Arab. Syekh al-Qaradhawi sangat hormat dengan Syekh Sya`rawi, “Kalau saya bertemu Syekh Sya`rawi, saya cium tangan beliau!”

Syekh Sya`rawi yang ‘hanya’ lulus s1 al-Azhar ini karirnya dilancarkan oleh Allah. Ia juga pernah menjadi dosen di Universitas Ummu’l Qura, Mekah. Waktu itu dia diminta mengajar aqidah, padahal spesialisasinya adalah bahasa Arab. Tapi Syekh Sya`rawi memang dikaruniai kecerdasan oleh Allah, jadi hal itu tak menjadi masalah besar buat beliau.Tahun 1963, ada konflik antara Presiden Mesir Jamal Abdul Nasser dengan Raja Su`ud, Syekh Sya`rawi dilarang kembali ke Saudi. Sekembalinya dari Saudi, beliau ditunjuk menjadi direktur kantor Syekh al-Azhar, Syekh Hasan Ma’mun.

Kemudian beliau kembali berpetualang, kali ini menjadi ketua rombongan delegasi al-Azhar ke Aljazair. Syekh Sya`rawi diizinkan kembali mengajar di Arab Saudi, kali ini di Universitas King Abdul Azis.

Ketika Mamduh Salim menjadi perdana menteri Mesir, Syekh Sya`rawi ditunjuk menjadi Menteri Wakaf dan Urusan al-Azhar sampai Oktober 1978. Selama menjabat sebagai menteri, di antara prestasinya adalah menggolkan Bank Islam pertama di Mesir, Bank Faishal.

Syekh Sya`rawi, Teladan Soal Ihsan

Mesir adalah pusat keilmuan Islam. Konsekuensinya, akan terjadi banyak kajian sampai kepada perdebatan. Terkadang, cacian terhadap pihak lain tidak dapat dihindari. Tapi rasanya ini tidak berlaku bagi Syekh Sya`rawi. Saya pribadi belum pernah menemukan orang Mesir yang tidak cinta dengan Syekh Sya`rawi, apalagi sampai mencaci beliau! Semua orang silahkan mencinta, tapi Syekh Sya`rawi tetap pada kerendahan hatinya, tetap pada ihsan-nya.

Seorang senior pernah bercerita kepada saya. Waktu itu beliau diminta menjadi penerjemah seorang doktor Mesir yang berkunjung ke sebuah lembaga pendidikan di tanah air. Doktor tersebut menyampaikan sebuah cerita tentang Syekh Sya`rawi yang sangat menyentuh. Senior saya sampai menitikkan air mata ketika harus menerjemahkan cerita tersebut.

Ceritanya, Syekh Sya`rawi tergeletak di ranjang karena sakit di akhir hayatnya. Murid-muridnya berkumpul di sekelilingnya. Menyemangati beliau dan mendoakan kesembuhan bagi beliau. Tapi apa jawab Syekh Sya`rawi? “Kalian ini bagaimana? Kok malah ngomong begitu? Kalian ingin ‘kenikmatan’ yang saya dapat ini dicabut?”

Begitulah Syekh Sya`rawi, seorang manusia Qur’ani. Tidak hanya buku dan ceramahnya yang menginspirasi, namun juga setiap tutur kata dan perilaku hidupnya. Beliau adalah teladan dalam berihsan, menyembah Allah seakan kita melihat-Nya. Kalaupun kita tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Ia melihat kita. Ihsan tak bisa berbohong, karena berhadapan dengan Yang Maha Tahu. Untuk apa memamerkan amalan di depan manusia, padahal Allah melihat ke dalam hati terdalam manusia.

Syekh Sya`rawi pulang mengajar diantar supirnya. “Berhenti sebentar di masjid depan ya.” Supirnya heran,”Ini kan belum masuk waktu solat?” Ia pun setia menunggu Syekh Sya`rawi yang masuk ke dalam masjid. Tapi kenapa lama sekali? Ia pun memutuskan ikut masuk ke dalam. Ternyata Syekh Sya`rawi tidak ada di setiap ruangan masjid. Ia terus mencari, ternyata Syekh Sya`rawi sedang berada di tempat wudhu, sedang ngosek (membersihkan/menyikat-jw) bak air! “Lho Syekh! Kenapa kok malah ngosek bak air?” Syekh Sya`rawi menjawab, “Tadi ketika saya mengajar, terlintas ujub dan berbangga diri di hati. Makanya saya begini supaya rendah diri dan menghinakannya.”
Mohamed Metwally el-Sharaawy

Thursday, August 8, 2013

Kejayaan; dari Siapa untuk Siapa?



Malam Satu Syawal 1434 

Kalau diukur menurut kesepakatan dua kali setahun berlibur, malam ini mungkin saya sedang berjalan-jalan di alun-alun bersama kedua orang tua dan kedua adik saya. Sebelumnya menyantap hidangan buka puasa terakhir keluarga besar ibu yang besoknya setelah salat idul fitri akan kembali berkumpul bersama. Acaranya mulai dari sungkem, bincang-bincang, sampai tentunya bagi-bagi wisit alias angpau lebaran. Tapi untuk tahun ini, saya harus mempersiapkan ujian tamhidi I yang akan dilaksanakan tanggal 17 Agustus 2013 besok insya’a4Wl.

Di bawah memang ramai, maklum, pasar. Ditambah dengan adanya pembukaan warung Kusyari (pasta Mesir) yang menggantikan warung Kusyari yang lama. Tak apa, maka untuk mengisi kesendirian ini saya memutuskan untuk merenung dan menulis. Merenung untuk diri sendiri, menulis untuk membayar hutang tulisan yang sudah lama saya janjikan kepada ayah, ibu, dan adik-adik saya khususnya.

Banyak hal yang bisa direnungi. Tapi malam ini, satu tema yang kebetulan sudah saya temukan keterkaitannya dengan tema hutang tulisan saya, “kejayaan”. Berapa banyak kita dengar, orang berkarya di dunia untuk meraih kejayaan. Namun, (untuk mempersingkat) mari kita renungi, sejalankah cita-cita kejayaan itu dengan tugas hidup kita?

Sulit menjawabnya, tapi tenanglah, Allah sudah menyiapkan para ulama pewaris Nabi yang bisa menjawab berbagai pertanyaan hidup kita. Mereka memang manusia biasa, bukan nabi. Namun, mereka telah melalui proses pendidikan jiwa, akal, dan hati dengan sebaik-baik cara. Setidaknya, kita bisa mencontoh mereka dalam hal menjalani hidup.

Guru para Ahli Hadis Dunia

Siapakah ahli hadis terhebat di dunia saat ini? Terlalu hiperbolis ya? Saya ganti dengan, siapakah guru dari para ahli hadis dunia saat ini? Pertanyaan tentang siapakah ulama paling brilian, bahkan dalam bidang tertentu, sulit dijawab. Apalagi oleh orang awam seperti kita yang baru mulai belajar agama belum masuk ke dunia keulamaan. Tapi bukan berarti jawabannya tidak ada sama sekali. Pada abad ketiga hijriyah, masa kejayaan ilmu hadis, ada perkataan begini, “Huffazh (salah satu gelar ahli hadis) dunia ada empat: Abu Zur`ah di Rayy, Imam Muslim di Nisapur, Abdullah bin Abdurrahman al-Darimi di Samarkand, dan Imam al-Bukhari di Bukhara.” Ini kata Muhammad bin Basyar, seorang ahli hadis abad ketiga. Imam al-Bukhari sendiri pernah mengatakan,”Saya tidak pernah merasa inferior dihadapan siapapun kecuali Ali bin al-Madini (salah satu gurunya)”. Kesimpulannya, penilaian ‘terhebat’ bukanlah hal yang aneh. Hanya tentunya, keluar dari mereka yang berhak menilai, yaitu sesama ulama. Kita cukup jadi pendengar saja.

Prof. DR. Ahmad Ma`bad Abdul Karim. Nama yang mungkin tidak setenar nama-nama yang masih hidup seperti Prof. DR. Ali Jum`ah (mantan mufti Mesir), Prof. DR. Ahmad al-Thayyib (Grand Syekh al-Azhar), DR. Yusuf al-Qaradhawi, Syekh Abdul Azis Alu Syaikh (mufti Kerajaan Saudi Arabia), Syekh Sudais, Syekh al-Ghamidi, dan lain-lain. Namun jasa beliau terhadap umat Islam, terutama dalam ilmu hadis, sangat besar dan tidak banyak orang yang tahu.

Saya pernah mendengar Prof. DR. Ridha Zakaria, salah seorang ulama hadis al-Azhar (guru majelis riwayat kutub sittah hari Sabtu) mengatakan bahwa,”Saya belum pernah melihat yang sehebat beliau sekarang, bahkan mungkin beliau sendiri juga belum pernah melihat yang sehebat dirinya sekarang”. Murid Syekh Ahmad Ma`bad, DR. Usamah al-Sayyid al-Azhari, seorang ulama muda al-Azhar yang disertasinya dibimbing oleh Syekh Ahmad Ma`bad, direktur kantor Risalah al-Azhar (lembaga dakwah dan syiar al-Azhar) mengakatan hal senada, “Beliau adalah gurunya seluruh ahli hadis dunia saat ini”. Pada Muktamar Hadis di al-Azhar Conference Center 2012 lalu (ketika itu Syekh Ahmad Ma`bad juga sibuk keliling-keliling memakai name-tag ketua panita memastikan acara berjalan lancar), dekan fakultas hadis Universitas Islam Madinah juga mengungkapkan kekagumannya terhadap beliau. Katanya, ketika memoderatori salah satu sesi,”Beliau tidak perlu diperkenalkan lagi.” Bukan bermaksud membandingkan satu dengan yang lain karena saya pribadi tidak punya kapasitas untuk itu, hanya memaparkan beberapa pengakuan ulama tentang Syekh Ahmad Ma`bad (kadang dipanggil Ahmad Ma`bid).

"Allah akan membuat mencerahkan wajah mereka yang mendengar hadis, menghafalnya, kemudian mengamalkannya..." (HR. Abu Daud)
Perjalanan Intelektual

Layaknya anak Mesir lainnya, beliau menjalani pendidikan dasar di sekolah dasar di kota kelahirannya, Fayoum, Mesir. Beliau yang lahir pada tanggal 6 November 1939 (1359 H) ini menamatkan hafalan al-Quran pada usia delapan tahun. Pada tahun 1961, beliau menamatkan pendidikan menengah di sekolah al-Azhar kemudian melanjutkan ke bangku universitas dan lulus pada tahun 1966 (usia 27 tahun) dari fakultas ushuludin jurusan tafsir-hadis (sekarang dipisah menjadi jurusan tafsir dan ilmu al-Quran, dan hadis dan ilmu hadis).

Menyandang gelar Lc, seperti kebanyakan pemuda Mesir lainnya, beliau menjadi imam dan khatib kementerian wakaf (seperti depag di Indonesia) sekaligus guru agama dan bahasa Arab. Sambil melanjutkan s2 mengambil spesialis tafsir, hanya ia lulus tamhidi (pendidikan teori) dengan predikat cukup. Kuatnya tekad menuntut ilmu membawanya masuk lagi ke bangku s2 dengan spesialisasi hadis yang akhirnya menjadi jalan hidup yang Allah tentukan baginya. Gelar doktor diraihnya pada tahun 1971.

Syekh Ahmad Ma`bad banyak menjalani hidupnya di dunia pendidikan. Seperti menjadi dosen di almamaternya, Universitas al-Azhar. Juga berkesempatan untuk membagi ilmunya di Arab Saudi, tepatnya di Universitas Muhammad bin Su`ud fakultas ushuluddin, jurusan aqidah dan aliran kontemporer, tafsir dan ilmu tafsir, dan jurusan sunah dan ilmunya sejak tahun 1399 H sampai 1417 H (18 tahun). Sudah banyak karya tulis (tesis maupun disertasi) yang beliau bimbing dan uji. Dari kawah pembinaannya pula lahir banyak ulama baik dari Mesir maupun negara timur tengah lainnya seperti Arab Saudi,tempat 18 tahun beliau mengajar, seperti Syekh Salman Fahd al-Audah, Syekh Abdul Wahab al-Thariri, dan lain-lain. Sampai sekarang, murid-muridnya yang sudah pada menjadi orang besar keep contact dengan beliau.

Tashnîf al-Kutub (Karya-Karya Beliau)

Selain membina manusia, tugas dari ulama adalah melakukan pengkaderan ulama. Bahkan tashnîfu’l kutub (menulis buku) juga merupakan bagian dari keduanya. Kalau ditanya mengenai karya tulis Syekh Ahmad Ma`bad, mungkin jawabannya akan berbeda dengan karya tulis Syekh al-Qaradhawi yang kebanyakan juga bisa dinikmati orang awam. Karya tulis Syekh Ahmad Ma`bad lebih banyak dalam lingkup spesialisasi seperti:

1.      al-Nafh al-Syadzi yang merupakan penjelasan dari Jami` al-Tirmidzi karya Ibnu Sayyid al-Nas (karya tahkik/filologi dan kajian), dicetak di Daru’l `Ashimah, Arab Saudi.
2.      Alfâzh wa `Ibârâtu’l Jarh wa al-Ta`dîl baina al-Ifrâd wa al-Takrîr wa al-Tarkîb wa Dilâlat kullin minhâ `alâ Hâl al-Râwi wa’l Marwi (Lafaz-Lafaz Penilaian Negatif dan Positif dalam Bentuk Tunggal, Pengulangan, dan Rangkaian, Serta Petunjuk dari Masing-Masing Lafaz Tersebut tentang Keadaan Rawi maupun Riwayatnya)
3.      Al-Hâsib al-Âli wa Istikhdâmuhû fî Majâl al-Sunnah al-Nabawiyyah (Penggunaan Komputer dalam Bidang Hadis)
4.      Buku Kajian Tokoh Ahli Hadis (Imam Zainuddin al-`Iraqi)
5.      Tahdzîb al-Tahdzîb (Buku biografi perawi hadis dari enam kitab hadis standar karya Ibnu Hajar al-Asqalani) (Karya Filologi, belum dicetak).
6.      Kumpulan Fatwa (diterbitkan Harian al-Ahram, Mesir)
7.      Dan lain-lain...

Kesibukan ulama hadis bermazhab fikih Hanafi ini (sependek pengamatan saya) banyak yang berkisar di tema mengkader ulama dan penelitian hadis. Selain mengajar di Universitas dan Masjid al-Azhar (talaqi), beliau juga membimbing dan menguji berbagai karya tulis berbentuk tesis dan disertasi (beliau pernah bercerita di kelas bahwa beliau sedang mengoreksi 15 karya tulis saat ini), mengisi seminar di berbagai negara timur tengah, menjadi ketua Yayasan Makniz Islami yang bergerak dalam bidang hadis, dan menyusun kurikulum berbagai universitas.

Talaqqi Kitab Tadrib al-Rawi di Masjid al-Azhar, 
kebanyakan pesertanya adalah peneliti hadis



Selain itu, beliau adalah salah satu anggota Hai’ah Kibâru’l `Ulamâ’ (Badan ulama senior) al-Azhar. Sebuah lembaga yang menjadikan al-Azhar bisa maksimal melaksanakan misinya. Di antara fungsi dari lembaga ini adalah menjadi rujukan pemerintah Mesir tentang syariat Islam (lihat pasal 2 UU Mesir). Dipimpin oleh Grand Syekh al-Azhar. Di antara anggotanya adalah Syekh Ali Jum`ah, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Syekh Muhammad Imarah (pemikir Islam), Syekh Ahmad Thaha Rayyan (pakar fikih mazhab Maliki dunia), dan lain-lain. Beberapa waktu lalu, Dewan Ulama Senior banyak memberikan koreksi tentang Obligasi ‘Syariah’ yang diajukan oleh pemerintah Mesir. Konsep yang diharapkan bisa memulihkan perekonomian Mesir ternyata ada beberapa poin yang dianggap Dewan Ulama Senior tidak sesuai syariat dan jelas merugikan. Misalnya, salah satu poinnya menyebutkan bahwa jaminannya berupa BUMN Mesir. Kasus ini cukup ramai di media Mesir beberapa bulan lalu. 

Selain itu, tugas Dewan Ulama Senior adalah memilih Grand Syekh al-Azhar (apabila ada pergantian suatu hari nanti) juga merekomendasikan mufti Mesir untuk diberi SK oleh kepala negara. Pernah suatu ketika, beliau izin tidak bisa mengajar, alasannya? Beliau sedang rapat merekomendasikan mufti Mesir yang baru, menggantikan Syekh Ali Jum`ah. Akhirnya terpilih mufti yang sekarang DR. Syauqi Ibrahim `Allam yang bermazhab Maliki.

Secara pribadi, saya belum pantas mengatakan sudah mengambil banyak ilmu dari beliau. Jujur, saya baru mengenal beliau awal 2012 lalu ketika Muktamar Hadis yang diselenggarakan oleh Yayasan Makniz Islami di Cairo, dimana beliau menjadi ketua panitianya. Selebihnya hadir di mata kuliah takhrij dan ilal (ilmu mencari kecacatan hadis) di s2 dan talaqi kitab ilmu hadis Tadrîb al-Râwi karya Imam al-Suyuthi yang beliau ampu di masjid al-Azhar (sayang, yang kedua ini harus ditinggalkan karena hadir di majelis riwayat hadis bersama Syekh Ridha Zakaria di waktu yang sama, semoga Allah ganti dengan yang lebih baik).

Pertemuan yang singkat ini banyak pelajaran yang dapat diambil dari beliau. Kaitannya dengan pendidikan ulama hadis, beliau sering mewanti-wanti bahwa karakter ilmu hadis adalah teorinya diambil dari buku. Mengapa? Karena semua hal yang dibutuhkan dalam kajian hadis mulai dari teks sampai perawi hadis sudah selesai dibukukan oleh para ulama terdahulu. Misalnya dalam takhrij hadis, setelah kita selesai mengumpulkan berbagai jalur periwayatan sebuah hadis, ada sebagian ulama yang menyusunnya dalam urutan kitab tersahih, jadi selalu mulai dari al-Bukhari, Muslim, dst. Syekh Ahmad Ma`bad tidak setuju karena yang dilakukan oleh para ahli hadis zaman dahulu tidak seperti itu. Mereka menyusunnya urut dari jalur yang termirip kemudian yang berbeda guru di atasnya dan seterusnya (al-Mutâba`ah al-Atamm fa’l Aqal) dalam satu sahabat. Baru jalur sahabat lain. Jadi, tidak mesti dimulai dari al-Bukhari. Hal ini bisa dilihat dari metode Imam Muslim dalam Shahih-nya, Imam al-Zaila`i dalam Nashb al-Râyah ketika mentakhrij hadis dalam kitab fikih hanafi al-Hidâyah, dan lain-lain. 

Suasana belajar di kelas: Syekh Ahmad Ma`bad (kiri) Syekh Muhammad Mushtafa Abu Imarah (Kanan)


Ketika berteori pun, Syekh Ahmad Ma`bad selalu membawa hasil penelitiannya yang kadang berupa copy-an kitab maupun kertas kecil yang berusia belasan tahun. Bahkan kata seorang kawan, kertas kecil itu kadang berupa slip bank yang beliau manfaatkan untuk menuliskan kesimpulan dari penelitian beliau terhadap sebuah hadis atau buku bertahun-tahun lalu. Kertas-kertas yang selalu beliau sebut kuftah (makanan Mesir terbuat dari daging), bathothis (kentang, biasanya digoreng), dan lain-lain yang membuat murid-muridnya grrr...

Sekali lagi bukan sembarang kertas. Beliau tidak sependapat dengan ulama lain yang mengatakan bahwa hadis dha`if hanya bisa naik ke hasan (terlebih dahulu atau mentok), tidak bisa langsung ke shahih. Menurut beliau, hadis dha`if bisa menjadi shahih li ghairihi. "Kalau gak percaya baca Hady al-Sari (mukadimah Fathu'l Bari-pen)".

Kesimpulannya, kajian hadis lebih mengandalkan studi pustaka daripada sekedar logika akal atau silogisme belaka. Simpelnya, ilmu dan kematangan ulama hadis berbanding lurus dengan kualitas dan kuantitas bacaan.

Buku apa? Syekh Ahmad Ma’bad sering mewanti-wanti untuk memilih membaca buku para ulama terdahulu (mutaqaddimin) daripada kontemporer. Beliau menukil nasehat dari guru beliau, Prof. DR. Muhammad Abu Syahbah, ulama al-Azhar yang pernah mengajar di Arab Saudi:
إذا قرأت للمتقدمين صرت سابقًا للمتأخرين، وإذا قرأت للمتأخرين، جعلوك وراءهم
Artinya: Kalau kamu baca bukunya ulama mutaqaddimin, kamu akan mengungguli yang kontemporer, tapi kalau kamu baca buku kontemporer, kamu akan jadi manusia di belakang orang kontemporer.

Bukan berarti meremehkan karya kontemporer. Tapi begitulah perkataan ulama, harus dipahami dengan cermat. Pertama, siapa sasaran ucapan tersebut? Perkataan itu adalah nasehat dari guru beliau yang diteruskan kepada para mahasiswa sekarang, kepada para calon ulama. Kedua, kalau hanya mengandalkan silogisme, jelas yang terbaik adalah menggabungkan antara mutaqaddimin dan kontemporer karena tuntutan zaman. Tapi sekali lagi, ada kenyataan karakter kitab-kitab para ulama yang berfungsi sebagai sarana memahami al-Quran dan Sunnah. Setelah zaman Imam al-Syaukani (1250 H) (ada yang mengatakan al-Bajuri, seperti Syekh Ali Jum`ah), proses penyempurnaan bangunan keilmuan Islam bisa dikatakan selesai. Setelahnya, nyaris tidak ada perumusan teori baru, kebanyakan hanya kontekstualisasi dengan zaman sekarang, itupun selalu merujuk ke kitab-kitab babon para mutaqadimin. Kenapa? Simpelnya begini, ada berapa cara yang bisa dilakukan A-B-C untuk duduk di tiga buah kursi? Enam atau sembilan? Yap, enam. Nah, tidak mungkin ada cara ketujuh dan seterusnya. Keenam cara tadi, apabila diumpamakan seperti penyempurnaan bangunan keilmuan Islam, sudah selesai pada abad ke 13 hijriyah.

“Coba kamu baca sepuluh halaman saja sebelum tidur, sebulan kamu bakal khatam satu jilid kitab.” Itu nasehat Syekh Ahmad Ma`bad yang kata seorang senior, kitab-kitab hadis dan ilmu hadis yang berjilid-jilid itu tidak hanya beliau baca 100-200 halaman, melainkan semua sampai khatam. Makanya beliau bisa memahami metode kitab-kitab dan para ulama hadis, dan dari situlah jalan untuk menjadi “gurunya para ahli hadis dunia” karena sekali lagi, karakter kajian hadis yang sangat bergantung kepada kitab.

Selain itu, yang tidak boleh dilupakan dalam kajian hadis adalah berguru. Dalam dunia hadis dan ilmu hadis, pelajar otodidak sulit mendapat tempat (ini tidak bertentangan dengan ‘membaca’ seperti di atas). Syekh Ahmad Ma`bad pernah berguru kepada Syekh Muhammad al-Samahi, ulama hadis al-Azhar, yang juga guru dari Syekh Nuruddin Itr (ulama hadis Syiria) ketika menjadi mahasiswa di al-Azhar. Ada juga Muhammad Abu Syahbah seperti tersebut di atas, Syekh Abdul Wahab Abdul Lathif, filolog terkenal, yang juga pembimbing beliau. Selain itu beliau juga pernah mendapat ijazah dari Syekh Hammad al-Anshari, Syekh Ismail al-Anshari, Syekh Abdullah Shiddiq al-Ghumari (ahli hadis terkenal dari Maroko), Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah (ulama hadis terkenal Syiria), Syekh Abdul Ghaffar al-Pakistani, juga ulama kebanggaan nusantara, Syekh Yasin al-Faddani, dan lain-lain.

Sebenarnya, beliau punya keinginan yang belum kesampaian, yaitu berguru kepada Syekh Ahmad Syakir (ulama hadis al-Azhar terkenal, juga merupakan filolog terkenal, di antara karyanya adalah al-Ba`its al-Hatsîts yang merupakan penjelasan dari kitab Ikhtishâr `Ulûmi’l Hadîs karya Ibnu Katsir). Juga keinginan berguru kepada Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang terkenal.

Humoris

Bagi yang pernah berguru kepada beliau, pasti terkenang akan joke-joke ringan yang berkesan dari Syekh Ahmad Ma`bad. Pernah beliau ditanya kenapa masih berkutat menjelaskan mukadimah kitab Tadrîb al-Râwi dan kapan masuk ke isi kitab? Dengan enteng beliau menjawab, “Tenang aja, sebelum kiamat insya’a4wl”. Grrr.... Ketika ditanya kapan kitab Tahdzîb al-Tahdzîb yang beliau teliti diterbitkan? Untuk menjawabnya, beliau meminjam kata-kata Imam Malik ketika ditanya soal arti al-Istiwâ’ (sifat bersemayam Allah), “Assu’âlu `anhu bid`ah! (Tanya tentang itu bid’ah) :D “. Pelajaran takhrij di al-Azhar berpedoman kepada tiga buku karya Prof. DR. Abdul Muhdi Abdul Qadir, kepala jurusan hadis Universitas al-Azhar. Sebenarnya kita dibebaskan memilih buku apapun juga selain ketiga buku itu, yang penting paham teori takhrij. “Kalian baca buku apa aja silahkan, isinya sama saja kok, kalau di satu buku namanya Abu Daud di buku lain juga Abu Daud, nggak mungkin jadi `ammu (paman) Daud”. 

Oh ya, beliau penggemar teh susu. Setiap mengajar di kuliah, selalu datang `Ammu Ahmad, karyawan di al-Azhar yang usianya sudah separuh baya, membawa segelas teh, kemudian Syekh Ahmad Ma`bad tinggal menungkan susu bubuk yang beliau bawa sendiri. Ketika proses itu terjadi, `Ammu Ahmad selalu dibuat kikuk mati gaya karena dicandai Syekh Ahmad Ma`bad di depan puluhan mahasiswa dari berbagai negara. Misalnya dengan didoakan “Ammu Ahmad ini, semoga Allah berkahi dia, keluarganya, termasuk juga makanan dan minumannya”.

Bagi yang tidak paham bahasa `ammiyah Mesir, akan sulit menangkap humor, bahkan pelajaran Syekh Ahmad Ma`bad karena beliau lebih sering menggunakan `ammiyah, bahkan ketika mengisi pelatihan di negara timur tengah lain seperti Pelatihan Takhrij di Kuwait.

Anti Pengkotak-Kotakan

Zaman sekarang, banyak ditemukan budaya tahdzîr. Alias mencap ulama atau kitab tertentu dengan cap negatif agar orang menjauhi. Sayangnya, kebanyakan hal ini dipengaruhi perbedaan kelompok. “Saya menentang pengkotak-kotakan! Hikmah itu barang yang hilang dari kaum muslimin, dia bisa didapat dari mana saja! (Ini adalah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah Ra.-pen)”.  Makanya, Syekh Ahmad Ma`bad menasehatkan untuk banyak belajar dari kitab para mutaqaddimin, karena di masa mereka lah bangunan keilmuan Islam dibangun. Manusia langka seperti Syekh Ahmad Ma`bad ini bisa membuat orang merasa diayomi. Kehadirannya selalu membawa manfaat di setiap tempat dan komunitas yang didatangi. Tentunya hal ini terwujud karena keluasan dan kedalaman ilmu beliau juga karena kelapangan dada beliau. Kedalaman dan keluasan ilmu membuat orang paham di sisi mana bisa memaklumi perbedaan pendapat orang lain, kelapagan dada membuat orang mudah bergaul dengan orang lain.

Manusia Memiliki Peran Masing-Masing

Kata orang Jawa, “Urip iku sawang sinawang”. Terkadang kita merasa orang lain lebih beruntung daripada kita, padahal bisa jadi orang lain juga memandang kita lebih beruntung. Terkadang posisi orang lain tampak lebih prospek daripada kita bahkan dalam hal berkhidmah terhadap ajaran Islam.

Dari perjalanan hidup beliau dan para ulama lainnya, kita dapat mengambil pelajaran yang mudah diucapkan dan dituliskan, susah dilakukan dan dirasakan. Allah menempatkan posisi masing-masing hamba-Nya. Ada Syekh Yusuf al-Qaradhawi yang menjadi ketua persatuan ulama dunia, namun ia juga menjadi anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar yang dipimpin Syekh Ahmad al-Thayyib. Ada yang mendapat peran seperti Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya`rawi yang terkenal dengan mutiara-mutiara pemahaman al-Qurannya sehigga begitu membekas di hati rakyat Mesir. Ada juga mereka yang tampil di garda depan di medan perang. Nama mereka harum dengan kisah heroik kepahlawanan mereka. Namun ada juga orang yang tidak banyak dikenal orang, yang mengenalnya adalah para ulama dan para penuntut ilmu. Perannya tidak bisa diremehkan. Sekilas terlihat yang dikerjakan simpel, hanya menyampaikan apa yang dia ketahui. Tapi dari yang simpel ini lahir ide-ide besar untuk mengarahkan manusia, menjaga otentisitas ajaran agama, dan para kader pekerjaan mulia ini. Kehadirannya selalu dinanti, bahkan umurnya selalu diharapkan untuk dipanjangkan, dan kesehatannya selalu didoakan agar ditetapkan. Kejayaan itu dari Allah, kapan dan tempat terserah Allah, yang jelas untuk Allah. Yang penting, selalu menjalani sebab dengan mengoptimalkan segala potensi ketika ikhtiar, dan doa.  Semoga kita termasuk orang-orang al-Shâdiqûn...

Karena ada manusia yang tidak terkenal di bumi, tapi namanya harum di langit....

Musa Al Azhar, Lc.
(Mohon doanya, mau ujian...)