أهلا و سهلا

Selamat Datang | Dua puluh tahun aku menyelami dunia, itu sangat membantuku dalam memahami apa yang Tuhanku inginkan dariku untuk kukerjakan (al-Syafi`i) | Sama-sama berbuat, hanya yang tanpa ilmu lebih banyak MERUSAK-nya daripada membangun-nya (Hasan Bashri)| Mohon masukan...

Wednesday, September 17, 2014

Buku Ayahku, Buku Keluargaku

Saya patut bersyukur. Di rumah Jogja, ada rak-rak buku raksasa yang menghiasi dinding rumah dan tidak ada yang kosong dari buku-buku ayah saya (masih di urutan pertama terbanyak), juga buku-buku milik ibu dan ‘anak-anak’ (saya dan kedua adik saya). Waktu kecil dulu (alhamdulillah sekarang saya sudah besar) saya sering melihat-lihat buku-buku ayah. Di antara buku-buku tersebut, ada yang isinya masih terekam baik di memori. Ini saya kisahkan, kisahkan dengan makna seperti riwâyah bi’l ma`na. Ada sedikit penyesuaian bahasa karena tuntutan zaman.

Kasykul. Judul dari sebuah buku kecil bersampul merah, isinya cerita-cerita unik. Salah satu kisahnya tentang ‘Konspirasi Yahudi’. Alkisah, ada seorang Yahudi yang kebetulan namanya sama dengan saya, Musa. Ia hidup di tengah kaum muslimin. Tentunya, ia selalu dapat mengamati kegiatan kaum muslimin sehari-hari termasuk solat berjamaah.

Mendengar suara adzan, bukannya hatinya tercerahkan. Tumbuh niat untuk menjalankan salah satu protokol zion (entah nomer berapa), membuat makar terhadap harta milik kaum muslimin. Kali ini salah satu pasal protokolnya berbunyi, “Nyolong sendal (mencuri sandal-Jw) milik kaum muslimin”. Dia memutuskan untuk menyerang ketika kaum muslimin sedang solat, karena ia tahu umat Islam bakal konsentrasi ibadah dan sandal-sandal ada di luar masjid. Tak lama kemudian, ia mendengar sang imam mengumandangkan takbir dan membaca bacaan tertentu. Musa pun mulai beraksi.

Ketika di tangan kanannya sudah tergenggam beberapa pasang sandal milik kaum muslimin, ia mendengar sang imam melantunkan. “Wa mâ tilka bi yamînika yâ Mûsâ...” (Apa yang ada di tangan kananmu Wahai Musa?). Kontan ia kaget bukan kepalang sekaligus merinding buah dari ke-GeeR-annya. Bagaimana mungkin sang imam tahu apa yang ia perbuat padahal ia berada di barisan terdepan dan menghadap ke arah yang berlawanan?

“Wah hebat juga umat Islam ini, ternyata setingkat itu kemampuannya!”, pikirnya. Selang beberapa waktu, ia dapat hidayah dan masuk Islam. Sekian ceritanya, karena memang ‘Kasykul’ isinya cerita pendek.


|Nikmati cerita ini dengan pikiran sederhana, tak perlu penafsiran macam-macam apalagi hermeneutika. Karena saya hanya ingin bernostalgia dengan buku-buku ayah saya, buku-buku keluarga saya. Juga ingin mohon doa, supaya terlecut untuk lebih rajin, efektif dan ikhlas baca|






Class is Permanent


Syekh Muhammad Zahid al-Kautsari al-Hanafi dalam kata pengantar kitab Nashb al-Râyah-nya al-Zaila`i  (Takhrij hadis-hadis kitab fikih madzhab Hanafi al-Hidâyah karya al-Marghainani) pada part al-Ra’yu wa’l Ijtihâd menyebutkan tentang Ibrahim al-Nazham yang kata beliau (al-Kautsari) tidak percaya dengan metode qiyas (analogi) sebagai salah satu sarana penyimpulan (istinbâth) hukum, bahkan al-Nazham mencacatkan para sahabat karena menggunakan metode tersebut (Nashb al-Râyah 1/20). Padahal jumhur ulama mengakui legalitas qiyas. Meminjam bahasa Cak Lontong, “Saya terhenyak!”. Sehingga saya pun memutuskan untuk melakukan survey...pustaka:

Ibrahim bin Sayyar bin Hani’ al-Bishri Abu Ishaq (231 H [al-A`lam 1/43] Om Wiki bilang 221 H) atau lebih familiar dengan nama al-Nazham (النظّام). Seorang pembesar Muktazilah dan pakar ilmu kalam yang dikaruniai kecerdasan luar biasa. Penulis Tarikh Baghdad, al-Khathib al-Baghdadi (463 H) pun mengakui kemampuan al-Nazham sebagai debator Muktazilah. Konon, al-Nazham hafal al-Quran, Taurat, Injil dan Zabur plus tafsir-tafsirnya. Belum lagi urusan sastra bahkan sains juga ditekuninya. Otaknya dibekali dua senjata/elemen penting berpikir; keraguan (al-Syakk) dan eksperimen (al-Tajribah).

Al-Nazham lebih memilih untuk mengisi otaknya dengan hal-hal yang didapat dari tenang berpikir. Maklum, ia sangat benci hal-hal berbau khurafat (apalagi gosip–pen).

Selain itu, beliau juga diakui kemampuannya dalam bidang bahasa. Konon, panggilan ‘al-Nazham’ didapat karena hal ini. Khalil bin Ahmad, perumus ilmu `Arûdh, pernah memuji al-Nazham kecil dengan ungkapan, “Yâ Bunayya, nahnu ilâ al-Ta`allum minka ahwaj!” (Hai anakku, kami lebih butuh belajar darimu).

Sastrawan dan pemikir besar Muktazilah, al-Jahizh, yang pernah berguru kepadanya melontarkan sanjungan, “Orang-orang terdahulu mengatakan bahwa setiap 1.000 tahun sekali muncul seorang manusia yang kehebatannya tak tertandingi. Kalau memang itu benar, maka orang itu Abu Ishaq al-Nazham!”.

Tunggu sebentar, kalau al-Nazham disebut sebagai ustadznya al-Jahizh dan konon beliau mati muda usia 36 tahun. Sedangkan al-Jahizh hidup antara tahun 159 H – 255 H, pada usia berapa al-Nazham sudah jadi ‘guru’? Bagaimana suasana hati mereka ketika proses berguru?

Doa al-Nazham:
اللهم إنك تعلم أني لم أقصر في نصرة توحيدك و لم أعتقد مذهبا من المذاهب اللطيفة إلا لأشد به التوحيد, فما كان منها ما يخالف التوحيد فأنا منه بريئ...فاغفر لي ذنوبي و سهل علي سكرة الموت

---------------------------------------------------------------------------------

Bukan masalah keberpihakan, sekali lagi ini soal ‘kelas’. Perdebatan soal agama selalu menjadi rekaman sejarah dari zaman dahulu sampai kiamat nanti. Hanya yang perlu dilihat adalah, siapa dan sekualitas apa aktornya? Zaman dahulu, perdebatannya antar orang-orang ‘seperti itu’. Sehingga generasi kemudian bisa mengambil manfaat dari perdebatan itu.

Sama-sama memakan waktu, bukankah lebih bermanfaat melengkapi dan memperindah bangunan keilmuan dalam diri. Daripada sibuk membenturkannya dengan bangunan milik orang lain tanpa sadar akan seberapa kekuatan dan tentunya, apa manfaatnya?

Soal ini, al-Nazham punya nasehat yang cukup populer di kalangan pelajar:

"العلم لا يعطيك بعضَه حتى تعطيه كلَّك"

Artinya : “Ilmu tidak akan memberikan sebagiannya kepadamu, sampai kamu mempersembahkan seluruhmu untuknya”.




|Tulisan ini terinspirasi dari pengamatan akan banyaknya diskusi agama di jejaring sosial|

Thursday, February 6, 2014

Sibawaih; Aroma Apel Terharum

Siapakah ulama nahwu terhebat yang pernah ada? Ibn Khillikan dalam Wafayâtu’l A`yan-nya menyebut Sibawaih. Amr bin Utsman bin Qanbar al-Haritsi Abu Bisyr. Sibawaih adalah gelar dalam bahasa Persia, apabila diarabkan artinya menjadi ‘aroma apel’. Sebagian kalangan suka memanggilnya Sibuyah, mereka kurang suka menyebut waih. Menurut orang non-Arab, artinya kurang baik. Ulama hadis beralasan, karena waih itu salah satu nama setan.

Sibawaih yang lahir di Syiraz, salah satu kota di Persia, lama berguru kepada Khalil bin Ahmad (100-170 H) di Bashrah, bahkan ia disebut sebagai muridnya yang paling unggul. Konon, Sibawaih itu gantengnya minta ampun. Gurunya sendiri pun sampai membuat tabir ketika mengajar Sibawaih.

Salah satu episode terkenal dalam hidup sibawaih adalah debatnya dengan ulama Kufah al-Kisa’i (119-189 H ), yang ketika itu menjadi guru dari putra Khalifah Harun al-Rasyid, al-Amin, tentang kalam Arab yang lebih fasih. Sayang waktu itu dialog berakhir dengan kurang sehat meskipun menghadirkan orang Arab asli. Dia dipaksa untuk mengakui bahwa al-Kisa’i yang benar. Sibawaih tahu ia dicurangi, maka ia pergi ke luar kota.

Masterpiece Sibawaih adalah al-Kitab, yang disebut sebagai buku nahwu yang tidak ada tandingannya, dari buku sebelum maupun setelahnya. Ia yang menjabarkan semua masalah nahwu di al-Kitab. Para ulama yang datang setelahnya, tidak ada satupun yang bisa menemukan persoalan nahwu apa yang belum dibahas Sibawaih dalam al-Kitab.

Dalam sebuah majelis, Prof. Dr. Fathi Hijazi, pakar balaghah al-Azhar, pernah menceritakan bahwa, “Dengan usia yang sangat pendek saja, kami (para ulama bahasa Arab di al-Azhar) sudah dibuat memeras otak dan tenaga, bagaimana kalau ia berumur panjang?”. Benar, Sibawaih meninggal dalam usia muda, 34 tahun. Namun begitulah, Allah yang menentukan peran hamba di dunia, dan menaikkan posisinya.

Meskipun terdapat perbedaan tentang kapan dan dimana Sibawaih meninggal, namun sumber yang bisa dipercaya menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun 170 H.

Sumber:
1. al-A`lam (5/81)
2. Wafayatu'l A`yan (3/463 no. 504)

Lokasi makam Imam Sibawaih
(karena tidak ada foto beliau, makam pun jadi)

Sunday, January 12, 2014

El-Sharaawy; The Chosen One

Bulan-bulan pertama di Mesir, saya penasaran dengan gambar orang tua berpeci putih khas Mesir (mirip topi kelasi), fotonya dipampang di mana-mana. “Itu namanya Syekh Sya`rawi, beliau adalah dai yang selalu dinanti pengajian tafsirnya. Beliau pernah menjadi Menteri Wakaf (semacam Menteri Agama di Indonesia). Meskipun pernah menjadi orang pemerintah, tapi beliau sangat merakyat dan rendah hati, makanya rakyat Mesir cinta Syekh Sya`rawi.” Begitu penjelasan seorang senior. Selama beberapa waktu terkadang memori akan (gambar) Syekh Sya`rawi kembali terngiang. “Oh ya, ada salah satu koleksi buku ayah saya berjudul ‘Anda Bertanya Islam Menjawab’, karya Muhammad Mutawally al-Sya`rawy, ternyata beliau orangnya”. Ingat sudah saya.

Entah kenapa sejak lama saya ingin menulis tentang Syekh Sya`rawi. Puncaknya ketika mendengarkan rekaman sebuah talkshow di salah satu tv Mesir membicarakan Syekh Sya`rawi. Waktu itu, ditemani seorang host, pematerinya adalah Syekh Usamah Sayyid al-Azhari yang terkenal ensiklopedis ketika membahas sebuah tema disampaikan dengan fasihnya bahasa dihiasi dengan suara beliau yang khas. Klop sudah.

Padahal saya belum pernah baca tafsir atau karya-karya beliau yang terpampang di toko-toko pinggir jalan, belum juga mendengarkan rekaman video beliau. Tapi secara bertahap, cerita tentang Syekh Sya`rawi selalu datang. Anehnya, tidak ada cerita tentang beliau yang tidak mengena! Tak apalah, maka kali ini saya akan berbagi cerita tentang Syekh Sya`rawi. Kalau sekedar biografi, browsing di internet sudah mencukupi.

El-Sharaawy Si Anak Petani

Ayahnya adalah seorang petani Mesir yang sederhana. Sya`rawi kecil yang dipanggil Amin pun seperti anak-anak sebayanya. Pergi ke sekolah, kemudian ikut membantu berladang. Cita-cita Amin kecil pun sebatas ‘meneruskan perjuangan ayahnya’ alias jadi petani. Tapi, Amin punya bakat sastra. Maklum, sejak kecil ia sudah mengikuti sayembara ayahnya, menghafal syair-syair Ahmad Syauqi, Si Raja Syair asal Mesir. Setiap satu syair, berhadiah beberapa keping qirsy (piaster, seperti sen, pecahan dari pound). Lumayan, tambahan uang jajan. Ketika masuk SMA al-Azhar di Zaqaziq, ia pun terpilih menjadi Ketua OSIS dan Ketua Perkumpulan Sastrawan Zaqaziq.

Amin sudah lulus SMA, waktunya jadi mahasiswa. Di dalam pikiran ayahnya sang petani sederhana itu, anak Mesir kalau sudah hafal al-Quran dan lulus sekolah ya masuk Universitas al-Azhar, untuk jadi orang benar. Amin ternyata masih bersikukuh dengan impian lamanya melanjutkan perjuangan ayahnya di ladang. Bahkan malam tes masuk al-Azhar, Amin mengoleskan merica ke matanya untuk mengelabui ayahnya. Dia pura-pura sakit. Apes, ketahuan.

Ketika tes pun dia tak kehilangan akal. Pengujinya dipermainkan dengan menjawab asal-asalan ketika diminta melanjutkan ayat al-Quran. Tapi yah, begitulah, mungkin di sinilah letak The Choosen One-nya. Pengujinya tahu kalau anak ini sebenarnya hafal al-Quran, tapi sengaja disalah-salahkan. Akhirnya, “Lancang kau bocah! Sudah sana masuk al-Azhar!” Amin diterima masuk al-Azhar, fakultas bahasa Arab.

Ayahnya datang ke Kairo untuk memastikan keadaan Amin, siapkah ia mengikuti pelajaran. Ternyata ia belum punya buku diktat (muqarrar). Berangkatlah mereka berdua ke toko buku. Lagi-lagi Amin berulah. Kitab-kitab yang berjilid-jilid dengan berbagai tema mulai dari bahasa, ilmu al-Quran, tafsir, dan lain-lain ditunjuknya asal-asalan. “Kali ini harus berhasil!” Begitu pikiran Amin. Ia berharap agar ayahnya menyerah ketika tahu bahwa ‘diktat’ al-Azhar besar-besar dan pasti mahal-mahal. “Berapa?” “Satu pound Pak.” Jawab pemilik toko. “Silahkan Pak, ini saya bayar satu pound.” Tanpa menawar, ayahnya langsung membayar semua kitab yang ditunjuk Amin. Padahal satu pound Mesir (Le) zaman segitu, mungkin sama nilainya dengan 800 pound zaman sekarang. 800 pound itu kalau dirupiahkan 1,5 juta untuk kurs saat ini.

Amin ikut ke stasiun kereta api melepas ayahnya pulang ke Mit Ghamr, kampung halamannya. Menjelang keberangkatan kereta, ayahnya berkata, “Nak, ayah tahu kok kalau kitab-kitab itu sebenarnya bukan diktatmu, tapi gak apa-apa. Semoga kitab-kitab itu membuat kamu tambah semangat belajar, semoga Allah membukakan pintu-pintu ilmu kepadamu melalui kitab-kitab itu”.

Muhammad Mutawalli al-Sya`rawi

Amin yang bandel sekarang sudah jadi Muhammad Mutawalli al-Sya`rawy yang berusia 60 tahun. Saya merasa penting memulai dari titik ini. Di usia ini Syekh Sya`rawy baru muncul di depan rakyat Mesir mengajarkan tafsir al-Quran. Mesir tak pernah langka ulama. Tapi Syekh Sya`rawy beda. Meminjam istilahnya Syekh Usamah Sayyid al-Azhari, Syekh Sya`rawi berhasil membangun madrasah rakyat dengan mutiara-mutiara tafsir al-Qurannya. Bukan sembarang menafsir, Syekh Sya`rawi punya modal bahasa Arab dari studinya di al-Azhar, juga dari ‘bakat’ yang Allah berikan kepadanya. Klop dengan al-Quran yang turun dengan bahasa Arab, maka untuk dapat menggapai makna-maknanya, kunci pertama adalah bahasa Arab dengan segala cabangnya. Seterusnya baru berbagai ilmu penunjang lainnya.

Kenapa baru muncul ketika sudah 60 tahun? Kemana saja sebelumnya? Ketahuilah bahwa yang memunculkan dan meredupkan orang adalah Allah. Guru-guru saya di al-Azhar pun sering menasehatkan untuk tidak keburu tampil, biarkan Allah yang mengatur dan menempatkan kita di posisi yang Ia Ridhai. Syekh Sya`rawi menempuh jalur yang sama dengan kebanyakan pemuda Mesir lainnya. Lulus al-Azhar, jadi guru SMA al-Azhar di berbagai kota. Ada yang menarik di sini. Saya pernah mendengar bahwa  yang pernah menjadi salah satu murid SMA-nya adalah Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Ketika itu, al-Qaradhawi muda juga sangat unggul di bidang bahasa Arab. Syekh al-Qaradhawi sangat hormat dengan Syekh Sya`rawi, “Kalau saya bertemu Syekh Sya`rawi, saya cium tangan beliau!”

Syekh Sya`rawi yang ‘hanya’ lulus s1 al-Azhar ini karirnya dilancarkan oleh Allah. Ia juga pernah menjadi dosen di Universitas Ummu’l Qura, Mekah. Waktu itu dia diminta mengajar aqidah, padahal spesialisasinya adalah bahasa Arab. Tapi Syekh Sya`rawi memang dikaruniai kecerdasan oleh Allah, jadi hal itu tak menjadi masalah besar buat beliau.Tahun 1963, ada konflik antara Presiden Mesir Jamal Abdul Nasser dengan Raja Su`ud, Syekh Sya`rawi dilarang kembali ke Saudi. Sekembalinya dari Saudi, beliau ditunjuk menjadi direktur kantor Syekh al-Azhar, Syekh Hasan Ma’mun.

Kemudian beliau kembali berpetualang, kali ini menjadi ketua rombongan delegasi al-Azhar ke Aljazair. Syekh Sya`rawi diizinkan kembali mengajar di Arab Saudi, kali ini di Universitas King Abdul Azis.

Ketika Mamduh Salim menjadi perdana menteri Mesir, Syekh Sya`rawi ditunjuk menjadi Menteri Wakaf dan Urusan al-Azhar sampai Oktober 1978. Selama menjabat sebagai menteri, di antara prestasinya adalah menggolkan Bank Islam pertama di Mesir, Bank Faishal.

Syekh Sya`rawi, Teladan Soal Ihsan

Mesir adalah pusat keilmuan Islam. Konsekuensinya, akan terjadi banyak kajian sampai kepada perdebatan. Terkadang, cacian terhadap pihak lain tidak dapat dihindari. Tapi rasanya ini tidak berlaku bagi Syekh Sya`rawi. Saya pribadi belum pernah menemukan orang Mesir yang tidak cinta dengan Syekh Sya`rawi, apalagi sampai mencaci beliau! Semua orang silahkan mencinta, tapi Syekh Sya`rawi tetap pada kerendahan hatinya, tetap pada ihsan-nya.

Seorang senior pernah bercerita kepada saya. Waktu itu beliau diminta menjadi penerjemah seorang doktor Mesir yang berkunjung ke sebuah lembaga pendidikan di tanah air. Doktor tersebut menyampaikan sebuah cerita tentang Syekh Sya`rawi yang sangat menyentuh. Senior saya sampai menitikkan air mata ketika harus menerjemahkan cerita tersebut.

Ceritanya, Syekh Sya`rawi tergeletak di ranjang karena sakit di akhir hayatnya. Murid-muridnya berkumpul di sekelilingnya. Menyemangati beliau dan mendoakan kesembuhan bagi beliau. Tapi apa jawab Syekh Sya`rawi? “Kalian ini bagaimana? Kok malah ngomong begitu? Kalian ingin ‘kenikmatan’ yang saya dapat ini dicabut?”

Begitulah Syekh Sya`rawi, seorang manusia Qur’ani. Tidak hanya buku dan ceramahnya yang menginspirasi, namun juga setiap tutur kata dan perilaku hidupnya. Beliau adalah teladan dalam berihsan, menyembah Allah seakan kita melihat-Nya. Kalaupun kita tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Ia melihat kita. Ihsan tak bisa berbohong, karena berhadapan dengan Yang Maha Tahu. Untuk apa memamerkan amalan di depan manusia, padahal Allah melihat ke dalam hati terdalam manusia.

Syekh Sya`rawi pulang mengajar diantar supirnya. “Berhenti sebentar di masjid depan ya.” Supirnya heran,”Ini kan belum masuk waktu solat?” Ia pun setia menunggu Syekh Sya`rawi yang masuk ke dalam masjid. Tapi kenapa lama sekali? Ia pun memutuskan ikut masuk ke dalam. Ternyata Syekh Sya`rawi tidak ada di setiap ruangan masjid. Ia terus mencari, ternyata Syekh Sya`rawi sedang berada di tempat wudhu, sedang ngosek (membersihkan/menyikat-jw) bak air! “Lho Syekh! Kenapa kok malah ngosek bak air?” Syekh Sya`rawi menjawab, “Tadi ketika saya mengajar, terlintas ujub dan berbangga diri di hati. Makanya saya begini supaya rendah diri dan menghinakannya.”
Mohamed Metwally el-Sharaawy

Perjalanan Talaqqi dari Masa ke Masa

Betapa berharganya ilmu dalam kehidupan manusia. Lebih khusus seorang mukmin. Entah bagaimana menyembah Allah, memakmurkan bumi, dan menyucikan diri tanpa arahan ilmu? Bukan sembarang ilmu. Hanya ilmu yang merupakan buah dari pengamalan rukun ilmu yang lima: guru, murid, buku, metode, dan lingkungan ilmiah.

Al-Azhar selalu menjaga agar kelima rukun ilmu ini terpenuhi sehingga dapat menghasilkan manusia yang dapat membimbing manusia-manusia lain di muka bumi dalam melaksanakan tugasnya.

Talaqqi. Meskipun sejak lama tersistem menjadi sebuah universitas, talaqqi tidak dapat ditinggalkan begitu saja dalam pendidikan al-Azhar. Ada jargon "al-Azhar jâmi`an wa jâmi`atan" artinya "al-Azhar itu ya masjid (talaqqi)-nya, ya juga universitasnya".

Di bawah ini tulisan Syaikh Ali Jum`ah, mufti Mesir yang lalu sekaligus anggota dewan ulama senior al-Azhar, yang ikut pontang-panting menghidupkan talaqqi di al-Azhar, dalam menghidupkan manhaj al-Azhar. Tulisan tentang perjuangan para ulama al-Azhar dalam mewujudkan pola pendidikan agama yang ideal.

Memang, mereka yang membaca buku dan mengajar bisa jadi tak sekeren mereka yang tampil di atas panggung orasi atau di depan pasukan. Tapi itu di mata manusia. Di mata Allah? Sama! Silahkan telaah tafsir Surah al-Taubah ayat 120 dan 122. Sebagai kata kunci, Prof. Dr. Abdul Fattah Abdul Ghani  selama masa perkuliahan tamhidi I yang lalu menjelaskan bahwa awal kedua ayat ini sama-sama menggunakan lâm juhûd. Ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa di hari kiamat nanti, tinta ulama akan ditimbang dengan darah syuhada dan yang lebih berat ternyata tinta ulama. (Hadis terakhir yang dicantumkan oleh al-Ajluni dalam Kasyfu'l Khafâ' wa Muzîlu'l Ilbas. Diriwayatkan oleh al-Syirazi dari Anas, Ibnu Abdi'l Barr dari Abu Darda' dan lain-lain. Menurut al-Munawi, sanad-sanadnya memang daif, namun saling menguatkan satu sama lain.)


Dengan beberapa penyesuaian dari penukil agar lebih manis dibaca. (Sejujurnya juga disesuaikan dengan kapasitas terjemah penukil) :P

Selamat menyelami!
------------------------------------------------------------------------------------

Selama berabad-abad, al-Azhar adalah menara ilmu yang diwariskan dari generasi ke genarasi selanjutnya. Ahmad Syauqi, si Raja Syair asal Mesir, sampai bersyair khusus tentang al-Azhar. Isinya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada al-Azhar dan memotivasi para Azhari (orang-orang al-Azhar) untuk tetap menyebarkan ilmu yang didapat dari al-Azhar di berbagai belahan dunia. Talaqqi pun tidak ketinggalan disebut dalam bait syairnya. Syauqi mengatakan bahwa talaqqi-talaqqi tersebut seakan menghadirkan Imam al-Syafi`i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad kembali ke zaman ini ditengah-tengah kita.

1. Tidak dapat dipungkiri bahwa al-Azhar selalu berkembang. Namun hal ini ternyata tidak dapat membendung pemikiran "merindukan kejayaan masa lalu" yang selalau menjangkiti para Azhari. Gejalanya, para Azhari akan selalu punya mimpi agar al-Azhar seindah dulu. Kembali kepada manhajnya yang terbukti berkualitas mencetak ulama berkualitas. Hal-hal semacam ini tidak baru muncul belakangan. Grand Syekh Hasan al-Athar punya perhatian khusus terhadap barat (dlam hal ini kolonialisme Perancis). Dialog antara peradaban timur dan barat tidak dapat dihindari (karena semua berada di satu bumi yang sama-pen).

Oleh karenanya, beliau menjadikan hal ini sebagai salah satu proyek peradaban al-Azhar, "Dialog antara tradisi keilmuan Islam (turats) dan realita zaman sekarang". Beliau juga mengirimkan muridnya, Rifa`at al-Thahthawi, ke Paris bersama dengan delegasi kiriman Muhammad Ali Pasha, pemimpin Mesir waktu itu. Al-Thahthawi mengemban misi khusus untuk merekam semua yang dilihat di Paris dengan tulisan. Mulai dari kuliner, fashion, budaya, sampai pemikiran. Kumpulan tulisan beliau diterbitkan dengan judul al-Ibrîz fî Mahâsini Bârîs.

2. Medio 60-an, lagi-lagi para Azhari terjangkit pemikiran "merindukan kejayaan masa lalu". Efeknya, lahirlah fakultas Islamic and Arabic Studies di Masjid al-Azhar. Mereka tetap mengkaji literatur klasik dengan metode talaqqi sampai selesainya pembangunan komplek tiga fakultas agama pada tahun 1936. Baru pada tahun 1980, fakultas Islamic and Arabic Studies ikut pindah ke kampus baru (di daerah Nasr City-pen) yang berdekatan dengan fakultas perdagangan. Akibatnya, Masjid al-Azhar kosong karena tidak ada talaqqi yang berjalan.

Grand Syekh Jadd al-Haq Ali Jadd al-Haq berpikir untuk menghidupkan kembali talaqqi di Masjid al-Azhar, idenya pun terealisasikan. Ditunjuklah Dr. Muhyiddin Shafi, dekan fakultas ushuluddin waktu itu sebagai direktur program talaqqi di Masjid al-Azhar. Terpilihlah beberapa ulama untuk menghidupkan kajian-kajian di sana. Talaqqi dimulai sebelum asar dan dibuka untuk umum. Kemudian terjadi renovasi Masjid al-Azhar yang tentunya mempengaruhi kelangsungan talaqqi. Renovasi baru selesai pada tahun 1997.

3. Saya (Dr. Ali Jum`ah-pen) meminta izin kepada Menteri Wakaf (seperti Menag di Indonesia-pen), Dr. Hamdi Zaqzuq untuk menghidupkan kembali iklim keilmuan ala al-Azhar seperti sebelumnya. Keluarlah izin berkhutbah di Masjid/Madrasah Sultan Hasan (yang gedhe/tingginya Mâ Syâ'a 4Wl) sekaligus izin mengajar di Masjid al-Azhar. Saya meminta agar pelajaran diadakan di Ruwaq al-Atrak (basecamp mahasiswa Turki di masa perkuliahan al-Azhar diadakan di masjid). Tidak tanggung-tanggung, talaqqi diadakan rutin enam hari seminggu dimulai sejak terbit matahari! Materinya pun bermacam-macam, ada hadis, kaidah fikih, usul fikih, tauhid, mantiq (ilmu logika), ilmu hadis, dan tafsir.

Untuk kajian hadis, saya membacakan Shahih al-Bukhari, kemudian dilanjutkan Shahih Muslim, kemudian Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Muwaththa' Malik, sampai kepada setengah Sunan al-Nasa'i. Sedangkan materi kaidah fikih saya mengajarkan al-Asybah wa al-Nazha'ir karya Imam al-Suyuthi. Materi usul fikih ada Jam`u'l Jawami`, Tasynifu'l Masamih, Minhaju'l Ushul karya al-Baidhawi, dan al-Tamhid karya al-Isnawi selama beberapa kali. Saya juga mengajarkan kitab al-Sullam untuk materi mantiq. Sedangkan ilmu tauhid, ada al-Kharidah al-Bahiyyah dan Jauharat al-Tauhid sekaligus syarah keduanya. Saya juga mengajarkan tafsirnya al-Zamakhsyari. Untuk materi fikih, ada matan Abu Syuja`dan matan zubad Ibnu Ruslan. Kitab al-Hikam-nya Ibnu Atha'illah sebagai bagian ihsan pelengkap bangunan, diiringi Manazil al-Sa'irin karya al-Harawi dan ringkasan Ihya Ulumiddin part ibadah.

Semua ini berlangsung dari tahun 1998 sampai 2004!

4. Pada fase ini, banyak juga ulama al-Azhar yang ikut bergabung seperti Syekh Iwadhullah Hijazi, rektor al-Azhar di masa itu yang mengajar tauhid sebanyak dua kali. Jug Syekh Musthofa Imran yang mengajar mantiq selama beberapa kali dengan berbagai kitab. Syekh Muhammad Ahmad Sahlul ikut mengajar nahwu. Syekh Muhammad Thail, anggota Komite Bahasa Arab Mesir, mengajarkan beberapa hal dari masterpiece Ibnu Jinni, al-Khasha'ish. Ada juga Syekh Mukhtar al-Mahdi, ketua Jam`iyyah Syar`iyyah dan profesor nahwu di Universitas al-Azhar. Tidak ketinggalan Syekh Barakat Abdul Fatah Dwidar yang mengajar tauhid.

Pesertanya membludak! Lebih dari 200 mahasiswa/i dengan berbagai kebangsaan dan bidang studi masing-masing. Bahkan orang-orang non al-Azhar pun ikut bergabung (Penukil pernah bertemu calon dokter yang aktif talaqqi hadis, fikih, dan sebagainya. Ada juga Syekh Yusri, dokter bedah yang akhirnya menjadi pengisi talaqqi-pen). Program talaqqi itu sendiri terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung menuntut ilmu. Dalam program talaqqi, ada pembacaan kitab, ada pula sesi dialog yang didalamnya sering mendiskusikan antara materi dengan realita kekinian. Inilah keistimewaan manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah dalam memahami teks, realita, dan kaitan antara keduanya.

5. "Wah, bagus juga ini kalau bisa diadakan di tempat lain selain al-Azhar!" Insiatif dari Dr. Hasan al-Syafi`i, ulama al-Azhar yang juga menjabat sebagai wakil Daru'l Ulum Universitas Kairo dan rektor IIU-Pakistan di Islamabad. Hal ini diusulkan kepada rektor al-Azhar kala itu, Dr. Ahmad el-Tayyeb dan Menteri Wakaf Hamdi Zaqzuq. Keduanya menjawab, "Setuju!" Kementrian wakaf bahkan ikut menjadi sponsor program talaqqi dengan kucuran dananya. Meeskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa para ulama yang mengajar murni karena dedikasi yang tinggi terhadap ilmu dan kesadaran akan wajibnya "Ballighû annî wa lau âyah."

Posisi sebagai rektor tidak menghalangi Dr. Ahmad el-Tayyeb untuk terjun langsung ke medan laga. Hal ini sangat menggembirakan mengingat kapasitas beliau yang tidak perlu dipertanyakan lagi dalam ilmu tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu logika dan riwayat.

Sang wakil rektor tidak mau ketinggalan, Dr. Muhammad Abdul Fadhil juga ikut mengajar. Dr. Hasan al-Syafi`i yang disebutkan di atas juga ikut mengajar, bahkan memahami setiap persoalan yang ada. Beliau juga kaya akan wawasan berbagai kebudayaan. Sedangkan hamba yang fakir ini (Dr. Ali Jum`ah-pen) mengajar usul fikih dengan kitab Lubb al-Ushul di Ruwaq al-Abbasi. Selain yang disebutkan di atas, banyak juga ulama lain yang ikut berkontribusi menghidupkan talaqqi.

6. Selain materi-materi di atas, ada juga materi qira'at, tajwid, nahwu, fikih, hukum waris, dan hadis. Diampu oleh para lulusan al-Azhar yang dulunya konsisten talaqqi sejak awal dibuka kembali. Jadilah mereka memiliki kapasitas untuk mengajarkan kembali apa yang dulu mereka pelajari dari para ulama besar.

7. Program ini tidak luput dari pengamatan ulama lain dari berbagai belahan dunia yang mengunjunginya. Banyak juga ulama dari berbagai madzhab sunni, bahkan syiah dan ibadhiyyah yang angkat surban (aslinya angkat topi, idiom untuk respek/salut-pen :P ) kepada program talaqqi di atas. Menurut mereka al-Azhar sudah kembali kepada metode yan bsia memberikan kemerdekaan bagi ilmu. Sehingga para pelajar asing dari negara-negara Arab maupun negara-negara Islam di Asia dan Afrika, termasuk pelajar dari Amerika dan London (Eropa-pen) bisa memahami manhaj yang moderat (al-Wasathiyyah), harta karun keilmuan Islam (turats), termasuk memahami gerakan anti kemapanan (teroris) dan sumbangsih negatifnya terhadap umat Islam. Akhirnya mereka pun dapat memahami jalan yanglurus dan terang. Sungguh benar sabda Rasulullah Saw. tentang sekelompok umat yang tetap berpegang teguh terhadap kebenaran sampai akhir masa nanti.

-Prof. Dr. Ali Jum`ah-

-----------------------------------------------------------------------------------

Mungkin sebagian pembaca akan menganggap bahwa tulisan ini hanyalah data pelaksanaan talaqqi di al-Azhar. Mari kita berpikir, banyak tanggung jawab yang diemban oleh para ulama besar mulai dari urusan akademis sampai keumatan. Tapi, mengapa mereka begitu bersemangat menghidupkan talaqqi yang hanya sekedar 'ngaji kitab'? Nampaknya mereka melihat sesuatu yang berharga dari talaqqi. Ada sebuah sumbangan peradaban nantinya, karena Islam adalah agama ilmu yang membutuhkan kelima rukunnya seperti yang tersebut diatas. Siapa yang ingin memakmurkan dunia, ilmulah bekalnya. Siapa yang ingin memakmurkan akhiratnya, ilmulah bekalnya. Begitu juga kaum muslimin yang tentu menginginkan keduanya.


Tuesday, December 3, 2013

Urgensi Sejarah dan Kritik Sejarah Perspektif Ibn Khaldun

Tulisan ini merupakan pesan, agar kita lebih arif membaca sejarah. Agar kita 
tidak memandang apa yang terjadi di masa lalu dengan kacamata masa kini

A. Latar Belakang

Menurut Ibn Khaldun (808 H), sejarah merupakan ilmu yang kaya manfaat dan urgen mengingat perannya sebagai proyektor keadaan bangsa terdahulu. Membaca sejarah berarti membaca tata laku manusia di masa lampau, kisah para Nabi, strategi para raja dalam berpolitik dan bernegara. Apabila hal di atas dilakukan, manusia akan dapat menjadikannya sebagai bahan pelajaran dalam meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.
Ibnu Khaldun (Ilustrasi)
Sejarah membutuhkan berbagai sumber, kelengkapan data, serta analisa yang mendalam. Apabila hanya mengandalkan nukilan-nukilan, bagaimana ia akan terbebas dari kerancuan bahkan kebohongan? Oleh karenanya sejarah membutuhkan kajian mengenai norma yang berlaku di suatu kelompok masyarakat, teori politik, karakteristik peradaban, dan lain sebagainya yang dengan kata lain, disebut kritik sejarah.

B.  Studi Kasus

Menurut al-Masudi, jumlah tentara Bani Israel pada zaman Nabi Musa As. ada 600.000 orang, bahkan lebih. Menurut Ibn Khaldun jumlah ini tidak masuk akal. Karena bagaimana mungkin jumlah tersebut bisa cukup tertampung di Tih (tempat mereka ketika dikutuk Allah Swt. selama 40 tahun). Alasan kedua, mereka selalu kalah oleh Persia. Tercatat, Nebukadnezar pernah dengan mudah menaklukkan mereka di Yerusalem. Pada masa perang Qadisiyah misalnya, ketika tentara Persia berada di salah satu masa kejayaan, tentara Persia berjumlah 120.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 60.000. Memang, menurut Ibn Khaldun banyak sejarawan di masanya yang lebay ketika berbicara masalah jumlah tentara sampai jumlah pajak. Hal ini tidak lain hanyalah untuk menarik pembaca.

Kritik sejarah juga berperan vital dalam penafsiran al-Quran. Misalnya ketika menafsirkan al-Fajr ayat 6-7.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ { 6 } إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ {7}

Tidak sedikit ahli tafsir yang ketika menafsirkan Iram, mensifatinya dengan kota yang memiliki bangunan/tiang yang tinggi. Alkisah, `Âd bin `Aush bin Iram memiliki dua orang putra, Syadid dan Syadad. Setelah Syadid meninggal, kerajaan diambil alih oleh Syadad yang terobsesi membangun istana megah ketika mendengar cerita tentang surga. Dibangunlah istana tersebut di gurun `Adn selama 300 tahun.[1] Setelah istananya jadi, Syadad beserta segenap jajarannya menuju ke sana, tapi mereka dihancurkan oleh Allah Swt. setelah menempuh perjalanan sehari semalam. Kisah ini disebutkan oleh Imam al-Thabari, al-Tsa`alabi, al-Zamakhsyari, dan ahli tafsir lainnya.

Menurut Ibn Khaldun, kisah ini tidak pernah diceritakan di semua belahan dunia. Penduduk gurun `Adn (ada di tengah Yaman) yang merupakan setting kisah ini, juga tidak pernah menceritakan kisah ini. Selain itu juga terdapat pertentangan mengenai setting istana tersebut. Ada pula yang mengatakan ada di Damaskus yang notabene daerah kekuasaan kaum `Ad.

Menurut Ibn Khaldun, para ahli tafsir memasukkan kisah ini dalam penafsiran ayat tersebut dikarenakan konsekuensi linguistik ayat tersebut. Dzâtu `Imâd adalah sifat dari kaum `Ad. Mereka mengartikan al-`Imâd sebagai tiang-tiang. Padahal, bisa saja itu adalah tiang-tiang tenda. Bisa juga diartikan bangunan secara umum karena memang kaum `Ad terkenal ahli bangunan.

Demikianlah, sejarah hanya akan menjadi data tanpa memperhatikan apa yang ada di balik peristiwa. Hanya akan menjadi cerita tanpa mengkaji karakter sebuah bangsa, etika, bahkan aliran kepercayaan. Selain itu sebab kemajuan dan keruntuhan suatu bangsa mutlak menjadi kebutuhan kajian sejarah. Hal-hal diatas dapat digunakan ketika menganalisa kebanaran sebuah fakta sejarah. Sejarawan yang meninggalkan aspek-aspek di atas bisa saja tergelincir, apalagi pembaca dari kalangan awam.

C.  Sejarah yang Berputar

Tidak perlu heran dengan keaadan suatu bangsa yang silih berganti seperti roda pedati. Kadang di atas, kadang di bawah. Ada kalanya mengalami masa keemasan, ada kalanya harus jatuh berkubang lumpur. Tidak perlu heran, karena itu adalah sunnatullah yang ada pada suatu bangsa, masa, maupun manusia.

Dunia memiliki varian kisah kejayaan peradaban. Mulai dari Persia (generasi pertama), Suryani, Nabth, kaum Tubba’, Bani Israel, dan Qibthi. Mereka memiliki kisah masing-masing dengan berbagai episode; politik, kenegaraan, industri, bahasa, sampai sumbangan terhadap dunia. Setelah era mereka berakhir, protagonis dari drama kolosal dunia beralih pada Persia (generasi kedua), Romawi, dan Arab. Berbeda pemeran, tapi alur cerita masih sama. Begitu juga ketika peradaban Islam berperan sebagai protagonis. Bahkan ketika bangsa non-Arab seperti Turki di sebelah timur, Barbar di sebelah barat, dan Prancis di sebelah utara naik ke atas panggung peradaban. Kisahnya tetap sama. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal di atas adalah pemimpin. Seperti kata-kata hikmah,”Manusia itu beragama seperti agama rajanya.”

D. Memandang Sejarah

Satu hal yang sebenarnya merupakan sebuah kesalahan adalah melihat sejarah dengan kacamata masa kini. Contoh kasus ketika membaca sejarah al-Hajjah. Disebutkan bahwa ayahnya adalah seorang guru. Padahal guru di zaman Ibn Khaldun berbeda dengan guru di zaman al-Hajjaj dari segi strata sosial. Pada masa generasi awal termasuk masa Umawiyah dan Abbasiyah, orang-orang kalangan atas-lah (Ahlu’l `Ashabiyyah) yang menjadi guru, mengajarkan Islam sampai ke berbagai wilayah futûhât. Ilmu-ilmu pun berkembang dalam perannya berkhidmah terhadap nash. Zaman kemudian beralih, Ahlu’l `Ashabiyyah lebih tertarik untuk menekuni dunia politik. Sehingga yang menjadi guru adalah orang-orang yang berada di bawah mereka. Sehigga profesi guru menjadi tidak lebih hanya sekedar mata pencaharian. Hal serupa juga terjadi pada jabatan hakim (al-Qadhi) yang di masa lalu lebih otoritatif.

Dalam penulisan sejarah juga tidak lepas dari hal ini. Sejarawan masa Ibn Khaldun banyak terpengaruh metodologi penulisan sejarah dari para sejarawan Umawiyah dan Abasiyah tanpa memahami landasan filosofis metodologi tersebut. Para sejarawan di dua masa itu ketika menyebutkan biografi seorang raja, turut menyebutkan nasab, keluarga, gelar, menteri, dan lain sebagainya. Agar para pembaca bisa meneladani kisah sukses mereka. Apa kerja keras mereka dibalik semua pencapaian tersebut. Menurut Ibn Khaldun, hal ini tidaklah tepat apabila diterapkan pada penulisan biografi para pemimpin di masanya. Ketika menceritakan kehidupan seorang hakim di masa lampau, tentunya akan berbeda dengan hakim di masa sekarang yang sangat jauh kualitas dan otoritasnya.

Sejarawan al-Masudi yang hidup pada tahun 300-an dalam Murûj al-Dzahab memaparkan keadaan bangsa-bangsa di barat dan timur, kondisi geografis, politik, sampai ideologi. Al-Masudi menjadi rujukan para sejarawan. Al-Bakri yang datang setelahnya mengikuti jejak al-Masudi, hal ini tidak mengapa karena keadaan pada masa al-Bakri tidak jauh berbeda. Apabila data yang diperolah al-Masudi masih digunakan pada masa Ibn Khaldun (tahun 800-an), apakah valid mengingat berbagai perubahan yang terjadi?

E.   Transliterasi dan Terjemah

Buku ‘Muqaddimah’ Ibn Khaldun sebenarnya merupakan mukadimah dari kitab al-`Abar fî Dîwâni’l Mubtada’ wa’l Khabar, fî Ayyâmi’l `Arab wal’l `Ajam wa’l Barbar, wa man `Âsharahum min Dzawi al-Sulthân al-Akbar, karya besar beliau dalam bidang sejarah. Dalam Muqaddimah, beliau juga membahas tata cara penulisan mengingat kitab al-`Abar membahas bangsa non Arab[2] yang tidak bisa dilepaskan dari istilah asing.

Huruf-hurus sebenarnya adalah bagaimana keluarnya suara-suara dari tenggorokan melewati anak tekak kemudian berproses melalui gigi, rahang, dan organ bciara lainnya. Inilah yang menyebabkan perbedaan huruf. Tidak hanya itu, masing-masing bangsa memiliki hurufnya sendiri, bahkan beda cara pengucapan huruf yang sama. Selanjutnya, mereka yang ahli dalam menulis membuat simbol setiap huruf.

Oleh karena kitab al-`Abar juga mencantumkan istilah asing, maka Ibn Khaldun membuat aturan, di antaranya huruf asing ditulis dalam dua huruf yang apabila diucapkan, maka pertengahannya adalah huruf asing tersebut. WalLâhu a`lam bi al-Shawâb.

Musa Al Azhar
Mahasiswa Universitas al-Azhar
Fakultas Ushuludin, Jurusan Hadis dan Ilmu Hadis 

:Dipresentasikan pada
Kajian AFDA (Bedah Buku)
PCIM Kairo-Mesir
Kamis, 24 Rabiul Akhir 1434 H
7 Maret 2013 M





[1] Syadad berusia 900 tahun
[2] Pada awalnya, Ibn Khaldun hanya berniat menulis sejarah wilayah barat (Maghrib), akan tetapi pembahasannya kemudian meluas sampai ke daerah timur.

Friday, November 29, 2013

Dalil Aqli dan atau Dalil Naqli

“Kalau menghadapi orang sekular, gunakan dalil aqli. Jangan gunakan ayat al-Quran dan Sunnah. Lha bagaimana? Mereka kan tidak percaya dengan al-Quran dan Sunnah”. Kata Prof. DR. Ahmad Thaha Rayyan, pakar fikih Maliki dunia, anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar.'
Prof. DR. Ahmad Thaha Rayyan,
dalam kajian Shahih al-Bukhari di Masjid al-Azhar setiap Ahad ba`da Dzuhur
_________________________________
Menggunakan logika akal untuk mencapai sebuah kebenaran tidak sama dengan menentang al-Quran dan Sunnah. Kebenaran dapat dicapai dengan tiga hal yang masing-masing sudah memiliki lahannya. Tidak sampainya sebuah proses berpikir terhadap hasil yang seharusnya salah satunya disebabkan oleh menggunakan salah satu dari tiga hal tersebut bukan pada lahannya. Atau, menafikan salah satu dari ketiga hal tersebut dan hanya mengandalkan sebagian yang lain.

Ketiga hal tersebut adalah:
1.  Berita dari sumber yang valid. Dari mana kita tahu bahwa besok di akhirat akan ada timbangan yang digunakan untuk menimbang amal perbuatan manusia? Percayalah dengan berita dari Rasulullah Saw. yang diberi wahyu oleh Allah Swt. Pertanyaan selanjutnya, apakah al-Quran yang kita kenal sekarang sama dengan al-Quran yang dulu turun kepada Rasulullah Saw.? Al-Quran diajarkan oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabat yang dinilai oleh para ulama sebagai orang yang adil, artinya bukan kaum yang berpotensi berdusta apalagi atas nama Rasulullah Saw. Selanjutnya diturunkan dari generasi ke generasi secara mutawatir. Artinya, dari orang banyak ke orang banyak, yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Inilah yang membuat kita semakin percaya bahwa al-Quran yang berada di antara kita sekarang ini adalah al-Quran yang dulu diajarkan Rasulullah Saw. kepada para sahabatnya.

Realitanya manusia sulit mengingkari legalitas berita dari sumber yang valid sebagai salah satu sumber kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu mudah percaya bahwa ada kebakaran, kerabatnya diterima di sekolah favorit, koleganya berpindah kantor, hanya dengan mendengar dari orang yang ia percaya.

Orang percaya bahwa Galileo Galilei adalah salah satu pendukung teori heliosentris.  Pertanyaannya, apakah kita punya sanad yang tersambung kepada Galileo? Cukup dengan mendengarkan penjelasan dari guru, kita percaya. Sekali lagi, berita bisa jadi sumber kebenaran selama sumbernya valid. Terlebih, umat Islam memiliki sistem ‘sanad’ sebagai perwujudan penjagaan Allah Swt. atas keaslian ajaran Islam.

2. Eksperimen berulang-ulang. Biasanya digunakan untuk mengungkap hukum alam. Misalnya mengetahui bahwa air akan mendidih ketika dipanaskan 100 derajat celcius. Merupakan hasil eksperimen berulang-ulang. Thomas Alva Edison ketika menemukan bola lampu listrik juga telah melakukan berkali-kali eksperimen untuk menemukan kawat yang cocok digunakan pada bola lampu.

Justru menjadi sebuah kesalahan ketika memaksakan semua hal yang berhubungan dengan hukum alam (misalnya) harus ditegaskan oleh teks al-Quran dan Sunnah. Jadinya akan memaksakan penafsiran terhadap ayat yang semestinya tidak mengandung makna tersebut. Tidak perlu khawatir, toh Rasulullah Saw. secara tersirat mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak tercantum sebagai teks al-Quran atau Sunnah, namun bisa dipastikan kebenarannya melalui metode lain. Kasus yang terkenal masalah cara berkebun kurma yang melahirkan statemen, “Antum a`lamu bi Umûri Dunyâkum, Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”[1] Para petani kurmalah yang sudah banyak makan asam garam dalam eksperimen menanam kurma.

3. Logika akal. Satu lebih sedikit dari dua. Ayah lebih tua dari anak. Alam ini berubah, setiap yang berubah membutuhkan yang merubahnya, maka alam ini membutuhkan kepada yang merubahnya. Kedua hal yang bertentangan tidak mungkin bersatu dalam suatu kondisi. Kesemua hal di atas adalah hukum akal.

Allah Swt. mengajarkan Nabi Nuh As. bagaimana menghadapi kaumnya yang tidak mau beriman kepadanya. Mulailah memikirkan Surah Nuh ayat 15 dan seterusnya. Bagaimana bisa ada langit yang bertingkat-tingkat? Ada bulan dan matahari? Tanaman? Semua hal yang ada di hamparan bumi? Ada rangsangan kepada umat Nabi Nuh As. untuk berpikir. Karena tidak mungkin sesuatu yang ada di dunia ini terjadi dengan sendirinya. Ada Dzat di luar alam yang disifati dengan kesempurnaan yang menciptakan semuanya. Tidak ada lain bagi seluruh makhluk selain menyembah-Nya.
__________________________________________________
Ada sebuah cerita menarik disampaikan oleh Syekh Ahmad Thaha Rayyan mengiringi nasehat di awal. Tersebutlah Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H) hidup di Baghdad pada masa keemasannya. Masa-masa dimana ajaran-ajaran di dunia ini diperjuangkan dengan argumentasi di arena debat, bukan dengan pedang di medan laga. Salah satu aktor di arena debat itulah al-Baqillani. Kemasyuhran dan pengakuan ulama membawanya ke Konstantinopel, ibukota negara adidaya di masa itu. Ia ditantang debat oleh para pemuka agama Nasrani di sana, di pusatnya.

Sesampai di lokasi, al-Baqillani menyalami para pemuka agama Nasrani satu persatu. “Gimana kabarnya Pak? Sehat ya?” Di tengah-tengah ramah tamah tersebut al-Baqillani juga menanyakan, “Gimana kabar keluarga? Sehat? Anak-anak baik-baik aja ya?” Kontan para hadirin kaget dengan ramah tamah ala al-Baqillani. Salah seorang berkomentar, “Bapak (al-Baqillani) kan sudah tahu kalau para pendeta dilarang menikah, kok Bapak menanyakan anak gimana?” Simak komentar epic al-Baqillani, “Kalian bisa mengkultuskan para pendeta dari urusan menikah dan punya anak, tapi kenapa tidak bisa melakukan hal tersebut terhadap Tuhan Penguasa alam raya?”


[1] HR. Muslim, Kitab al-Fadhâ’il, No. 6277 (ed. Makniz Islami) dari Anas bin Malik Ra.

Wednesday, October 2, 2013

Berbahasa untuk Memahami

Manusia sekaliber Ahmad bin Hanbal (241 H) saja pernah memujinya sebagai matahari yang mencerahkan dunia. Pasti dia bukan orang sembarangan. Jelas, ialah manusia pertama yang merumuskan bagaimana memahami al-Quran dan hadis nabi. Beberapa kalangan sampai menyebutnya Sang Pembaharu yang hanya lahir 100 tahun sekali. Ia adalah Muhammad bin Idris atau yang populer dengan panggilan Imam al-Syafi`i (204 H).
 
Imam al-Syafi`i bukanlah malaikat, ia manusia biasa yang pernah bayi, remaja, tua dan akhirnya meninggal. Tapi melihat pencapaian yang ia raih, menarik rasanya untuk mencari tahu bagaimana ia mencapainya. Mencari tahu ini masih realistis selama masih percaya akan pilihan Tuhan akan Sang Pembaharu per satu abad. Masih realistis karena sisi ‘manusia’ yang tidak mungkin lepas dari Imam al-Syafi`i. Sehingga jalan yang sama bisa kita lalui, meskipun level yang sama menjadi mission impossible untuk digapai.

Salah satu sisi yang menarik untuk diketahui adalah masa-masa kursus bahasa Arab di Bani Hudzail, salah satu suku di Arab. Pada masa ini, Imam al-Syafi`i menghafalkan semua syair Bani Hudzail. Menghafal bukan perkara yang sulit buat Imam al-Syafi`i, ia dianugerahi kemampuan menghafal semua yang ia dengar dan lihat. Bekal kursus inilah yang membentuk kemampuan berbahasa Imam al-Syafi`i yang nantinya menjadi bekal ketika ia hendak mengambil mutiara-mutiara hukum dari al-Quran dan hadis. Karena al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab, hadis pun dituturkan oleh orang Arab terfasih, Nabi Muhammad Saw. yang langsung dibina adab lisan dan jiwanya oleh Allah Swt. Addabanî Rabbî fa Ahsana Ta’dîbî. Prof. DR. Ali Jum`ah, mantan mufti Mesir, pernah bercerita, saking fasihnya Imam al-Syafi, perkataannya bisa menjadi patokan dalam bahasa Arab.

Semua bahasa mengalami proses pembentukan dan pengembangan. Menurut Prof. DR. Ahmad Fuad Basya, seorang pakar fisika Mesir yang juga concern dalam bidang Islamisasi ilmu pengetahuan, bahasa Arab yang digunakan masyarakat pada masa turunnya al-Quran adalah kombinasi antara bahasa Nabi Ismail As.,bahasa Ibrani, dengan bahasa kabilah Jurhum yang datang untuk minum air zam-zam dan akhirnya kerasan di sekitar sumurnya. 

Prof. DR. Fathi Hijazi, seorang pakar balaghah dunia dari Universitas al-Azhar, menyampaikan bahwa bahasa Arab ini akhirnya sempurna 150 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw. Ia menjadi keunggulan masyarakat Arab ketika itu dan menjadi bukti kecemerlangan akal mereka meskipun tidak memiliki keunggulan di bidang ilmu eksak seperti bangsa Yunani, India, dan lainnya. Orang Romawi yang hidup di perkotaan membanggakan gladiator, adu manusia sampai mati. Tapi orang Arab yang hidup di tengah padang pasir atau gunung batu Makkah punya festival syair di Pasar Ukazh, lebih manusiawi dan lebih elegan. Tujuh buah syair terbaik ditulis dengan tinta emas dan dipajang di dinding tempat termulia, Kabah.

Syekh Fathi menambahkan, setelah bahasanya mapan, masyarakat Arab siap untuk menerima wahyu yang disampaikan orang terfasih diantara mereka. Mereka paham bahasa al-Quran, dan tahu bahwa gaya bahasa al-Quran lebih unggul dari bahasa keseharian mereka. Sehingga mereka sadar bahwa al-Quran bukan rekaan manusia, melainkan kalam Tuhan. Dengan ini, seharusnya mereka langsung beriman.

Setelah menghafal al-Quran, kemampuan dasar yang menjadi harga mutlak harus dimiliki ulama adalah bahasa Arab meskipun yang bersangkutan bukan orang Arab, dan memang yang bisa menguasai bahasa Arab tidak harus orang Arab. Imam Sibuyah yang menulis al-Kitab, buku suci kaidah bahasa Arab juga bukan orang Arab (Maaf, saya mahasiswa jurusan hadis, diajarkan untuk tidak suka menyebut wayh yang konon salah satu nama setan. Jadi ketika menyebut Sibawaih jadi Sibuyah, Ibnu Rahawaih jadi Rahuyah, mohon dimaklumi).

Sebelum berbicara maqashid syariah, istihsan, maslahat, dan lain-lain, untuk memahami al-Quran dan hadis, ulama harus melalui fase pemahaman bahasa. Mulai dari makna teks perkata, kalimat, dan seterusnya. 
 
Musthafa Shadiq al-Rafi`i, sastrawan Mesir
Orang boleh membaca karya-karya Fikih Zakat, Fikih Prioritas, Fikih Jihad, dan fikih-fikih lainnya tulisan Syekh al-Qaradhawi, tapi jangan lupa, Syekh al-Qaradhawi pernah bercerita dalam Ibnu’l Qaryah wa’l Kuttâb-nya bahwa ia sudah unggul dalam bahasa Arab ketika masih berstatus pelajar SMA al-Azhar. Ramadhan al-Bouti juga tidak jauh berbeda. Penulis Kubra Yaqiniyyât, al-Salafiyyah, dan buku-buku lain pembantah materialisme ini  pernah mengalami masa-masa ngefans dengan tulisan Mushthafa Shadiq al-Rafi`i, sastrawan Mesir. Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya`rawi sama, bekal ilmu balaghah-lah yang membantunya untuk memetik mutiara-mutiara al-Quran yang menyinari penduduk Mesir. Siapa orang Mesir yang tidak kenal dan tidak cinta dengan Syekh al-Sya`rawi? Oh ya, Syekh al-Qaradhawi pernah bercerita bahwa Syekh al-Sya`rawi adalah guru bahasa Arabnya di SMA al-Azhar.

Meneruskan pesan Syekh Fathi Hijazi ketika daurah ilmu balaghah di Madhyafah depan al-Azhar, apapun disiplin ilmu kita, peganglah pohon bahasa Arab dengan segala cabangnya terlebih dahulu sekuat tenaga.
Syekh Fathi Hijazi: kata Prof. DR. Ridha Zakaria, pakar hadis al-Azhar, Syekh Fathi yang juga guru SMA-nya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ilmu balaghah.